Meutia Hatta: Mendirikan Koperasi Harus Didasarkan pada Kepentingan Bersama

Apabila ada sekelompok orang ingin mendirikan koperasi itu harus memilki kepentingan bersama, kenudian dibuat sistem kerja yang di dalamnya terkandung prinsip asah, asih asuh (mendidik, memahami, membina).

Demikian diungkapkan Meutia Hatta Swasono kepada awak media di Jakarta. Sebaiknya jika tidak memiliki kepentingan yang sama kata dia lagi lebih baik tidak usah mendirikan koperasi.

“Kalau di antara calon-calon anggota tidak memiliki kepentingan bersama, janganlah sekali-kali mendirikan koperasi, misalnya dilatarbelakangi karena sekedar karena bersimpati kepada ide pendirian koperasi,” ujar putri sulung Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta, baru-baru ini.

Masih menurut Meutia, sekelompok orang yang memiliki kepentingan bersama itu haruslah orang-orang yang sering bertemu, baik yang berdasar alasan se-rukun tempat tinggal, se-RT se-RW, setempat kerja, seprofesi, atau pun sejenis mata pencaharian.

Misalnya jelas Meutia lagi, para petani buah yang habis panen lalu berjejer dipinggir jalan, menunggu pembeli supaya dagangannya laku. Mengingat kepentingannya sama, maka dirikanlah koperasi, dan koperasi tersebut selanjutnya bisa menyalurkannya buah-buahan ke grosir atau pedagang besar. “Jadi para petani penghasil buah tidak harus menunggu pembeli hingga daganganya busuk,” ujarnya.

Masih ditegaskan Meutia, prinsip dari koperasi itu adalah usaha bersama untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama. Jadi, orang yang menjadi anggota koperasi harus mempunyai kepentingan yang sama. Misalnya, koperasi didirikan karyawan yang kesulitan mencari makan. Para karyawan ini bekerja di gedung tinggi yang membutuhkan waktu lama untuk membeli makan siang sementara tidak sempat menyiapkan bekal makanan karena harus berangkat kerja sepagi mungkin.

Mereka bisa membentuk koperasi yang menyediakan kebutuhan makan siang dan mengatur segala sesuatunya. Mulai dari membeli alat makan, sendok, menyiapkan menu, dan segala macam yang dikelola secara bersama. Dimana kebersamaan itu kata dia sangat penting. Artinya, pengelolaan koperasi ini harus manusia seutuhnya.

“Kata kuncinya tandas Meutia adalah secara bersama-sama dan itulah akan membentuk sinergi, yaitu kemampuan yang berlipat-ganda untuk menyelesaikan kepentingan bersama dan disinilah dibutuhkan kecerdasan. Jadi anggota koperasi tak harus sejahtera dulu, namun cerdas dulu baru kemudian bisa sejahtera secara bersama-sama,” jelasnya.

Meutia menambahkan untuk membangun koperasi menjadi satu kekuatan ekonomi, perlu dibentuklah jejaring koperasi. Dimana satu koperasi dengan koperasi yang lain bisa membentuk sinergii berdasarkan prinsip saling menguntungkan. Misalnya, kata dia mencontohkan, koperasi batik dulu pernah berjaya dan beberapa waktu mampu menguasai industri huli hingga hilir di bidang batik.

“Kan dulu sempat mencuat ada Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dan sampai saat ini masih memiliki genung bergengsi di kawasan Semanggi. Namun karena kebersamaan dan jejaring itu tidak dijaga, maka lama-kelamaan akan tenggelam,” tegasnya.

Menurutnya ada beberapa negara yang memiliki koperasinya maju-maju karena dibangun atas dasar kebersamaan. Misalnya di Kolumbia, Amerika Selatan, padahal dulu negara-negara ini dikenal sebagai produsen dan kartel kokain, kini menjadi produsen bunga hias terkemuka di dunia. (Maskop/AWes).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.