Nasional

Pemda Diminta Permudah Regulasi Investasi Guna Menggencet Produksi Garam

Pipnews.co.id,… Industri garam di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan kemudahan regulasi dari pemerintah setempat guna menyokong peningkatan produksi garam di dalam negeri. Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Syafri Burhanuddin mengatakan, perlunya dukungan regulasi dari Pemprov NTT guna mengembangkan lahan industri penggaraman di provinsi NTT.

“Lahan yang tersedis di NTT kami anggap cukup luas (untuk membuka lahan penggaraman) terurama di pulau Timor maupun Flores. Tentunya dukungan kemudahan regulasi dari Pemprov NTT untuk percepatan investasi industri garam di daerah itu,” kata Syafri melalui keterangan tertulis di Jakarts (26/6).

Dia mengatakan pihaknya membangun komunikasi yang intensif dengan Pemprov NTT terkait kesulitan yang dihadapi investor. Menurut Syafri rapat koordinasi intensif hampir tiap minggu dalam bulan terakhir ini. Masih kata dia, ada tiga perusahaan yang sudah mendapat kontrak dari Pemprov NTT, dan ada tiga sedang proses kerja sama untuk industri lahan garam. “Posisi pemerintah pusat menjembatani Pemprov NTT dengan investor yang memiliki kendala teknis. Seperti kemudahan regulasi, teknologi produksi garam dan dukungan infrasruktur,” jelasnya lagi.

Sebelumnya disebutkan, pada 2019 produksi garam nasional sebanyak 3,5 juta ton, sesuai yang ditargetkan pemerintah.  Namun seiring dengan bertambahnya industri membuat permintaan garam di dalam negeri ikut melonjak, sehingga diprediksi sulit memenuhi permintaan.

“Selain lahan produksi yang tersedia, permasalahan diperparah oleh proses pembuatan garam yang masih menggunakan metode evaporasi. Dimana produksi pengandalkan penguapan sinar matahari yang telah dilakukan sejak zaman hindia belanda,” imbuhnya.

Oleh karena itu lanjut Syafri, kini pihaknya tengah mematangkan prosrs harmonisasi Program Plagship Prioritas Riset NSional Teknologi Garam Terintegrasi dan sentra ekonomi garam rakyat untuk tata kelola penggaraman nasional yang baik.

Menurutnya, program ini bertujuan untuk memutus sistem atau metode pergaraman yang akan dipakai menghasilkan garam dengan kualitas di atas 96%. Terlebih kebutuhan garam nasional diperkirakan 4,5 juta ton. Sedangkan produksi garam sampai pada 2024 ditargetkan 3,4 juta ton. Ini artinya kebutuhan impor garam masih sekitar 1,1 jut ton.

Mengutip hasil survei pada 2018 menyebutkan, potensi garam di NTT seluas 24.501 hektar dan tersebar di sejumlah kabupatan. Yaitu di kabupaten Kupang, Malaka, Tomor Tengah Utara, Nagakeo, Ende, Rote Ndao, Sumba Timur, Flores Timur, Sikka dan lainnya. Saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke tambak garam di Kupang Agustus 2019, ia mengatakan NTT akan  dibangun jadi sentra garam nasional. “Hanya saja, saat ini baru digarap 10 hektar dari program pembangunan 600 hekrar,” kata Jokowi waktu itu. (Yan).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button