Nasional

Peputaran Usaha Pelaku IKM Tekstil Tertekan Maraknya Importasi Pakaian Jadi

Pipnews.co.id, Jakarta – Industri Kecil dan Menengah (IKM) di tanah air mengalami penurunan penjualan karena pandemi Covid-19. Namun demikian penurunan ini bukan karena faktor itu saja, juga diperparah dengan membajirnya produk impor tekstil pakaian jadi. Produk impor ini, tidak hanya dijual di pasar swalayan, tapi juga merembes ke marketplace.

Analis Kebijakan Industri dan Perdagangan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSBFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan, praktik ini sangat masih dilakukan, khususnya untuk.produk pakaian jadi. Masuknya produk  impor tersebut melalui Pusat Logistik Berikat (PLB) e-commerce.

Lebih lanjut Aqil menjelaskan, seharusnya IKM dapat memproduksi pakaian jadi karena jumlah produsennya banyak. Seperti terlihat dari data Indotextiles yang menyebutkan baha untuk garmen IKM produknya sekitar 641 ribu ton di tahun 2020.

“Mereka masuk melalui PLB e-commerce. PLB ini tidak hanya tekstil saja, macam.macam. Lebih ke produk konsumsi kebutuhan rumahtangga tangga,” kata Farman, seperti dikutip dari keterangan tertulis di Jakarta  (4/4).

Masih Fahran, dia juga mendapat laporan, IKM di Surakarta yang menggunkan limbah garmen sebagai bahan bakunya tidak dapat memenuhi permintaannya karena produksinya sudah minim. Di Surakarta, IKM  ini tidak dapat bahan baku sesuai permintaannya. Padahal bahan bakunya limbah. Kalau limbahnya minim, artinya produksi IKM hilurnya kan minim.

“Di Jawa Barat itu banyak sekali produknya. Contohnya serat rajut binong di Bandung. Mereka produksinya terus menerus dan pekerjanya juga banyak. Miris ketika produknya tidak dapat bersaing dengan impor. Harganya jauh sekali, tetapi kualitas lebih baik dibandingkan produk impor,” ujar Farran.

Farhran mengatakan, jika pemerintah tidak dapat memproteksi pasar dalam negeri, IKM ini akan mati perlahan lahan. Padahal potensi IKM tekstil ini dapat menumbuhkan perekonomian di tengah pandemi.

Menurut Analis APSBFI itu, kalau IKM dapat tumbuh, maka perekonomian juga akan bergerak positif. Penyerapan bahan baku juga akan baik ke industri hilir tekstil, jika IKM ini naik kelas. Kalau impor pakaian jadi ini terus menerus diberlakukan, IKM bisa mati dan pengangguran skala besar terjadi karena IKM ini bantak.

“Yang perlu dilakukan pemerintah adalah, pemberlakuan safeguard sesuai denganbrekomendasi KPPI. Rekomendasi ini sudah benar. tinggal melaksanakan saja,” tegas Riza.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Riza Mahidin memberikan solusi, bahwa safeguard pakaian jadi perlu diberlakukan. Hal ini sesuai dengan rekomendasi komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan.

“Yang perlu dilakukan pemerintah adalah, pemberlakuan safeguard sesuai denganbrekomendasi KPPI. Rekomendasi ini sudah benar. tinggal melaksanakan saja,” tegas Riza.

Dia mengatakan, saguard ini dapat menumbuhkan optimisme di IKM. tekstil. Ini juga akan membuat rantai produksi IKM dan UMKM dalam negeri akan semakin kuat.

[“Bahan baku IKM  ini tersedia dib dalam negeri. Tinggal support dari pemerintah saja untuk memproteksi pasar lokal,” pungkas Riza Mahidin menutup penjelasannya. (Yannes).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button