Peran Koperasi Di Era Industri 4.0 Dipertanyakan

(Catatan Kongres dan Lokakarya ADOPKOP di Malang Jawa Timur)

Pipnews.co.id, Malang – Lagu lama kembali diputar; apakah koperasi masih relevan dengan kondisi jaman? Apakah koperasi masih berperan dalam proses pembangunan? Lebih spesifik lagi masih adakah kontribusikoperasi terhadap pertanian dan pangan, industry dan perdagangan, atau pariwisata, transportasi dan jasa lain. Terlebih saat ini revolusi industry 4.0 yang berhasil mendisrupsi berbagai hal, jangan-jangan juga akan meninggalkan koperasi semakin terbelakang dibanding pelaku usaha lain.

Inilah sederet pertanyaan yang mengemuka saat Lokakarya pada pembukaan Kongres ADOPKOP (Asosiasi Dosen dan Peneliti Koperasi) di Universitas Muhammadiyah Malang – Jawa Timur 5-6/3/2019.

Kongres yang dihadiri oleh para akademisi dan peneliti perkoperasian dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta ini juga mendatangkan Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Prof. Dr. Rully Indrawan yang memaparkan Kondisi dan Tantangan Koperasi Indonesia beserta strategi kebijakan Pemerintah saat ini.

Sederet pemikir koperasi terkemuka seperti Dr. Noer Soetrisno, Djabaruddin Djohan, Prof. Tati Yusroh, Prof. Maryunani, Prof. Sudarmiatin serta sederet guru besar lain saling memberikan response pemikiran terhadap kondisi perkoperasian saat ini.

Menyadari bahwa faktor SDM Koperasi tetap menjadi kunci utama bagi Koperasi menghadapi era industry 4.0, peran dunia Pendidikan melalui ADOPKOP menjadi penting. ADOPKOP diharapkan terus memberikan ide-ide segar pembaharuan koperasi. Terlebih, karakter generasi muda saat ini yang gandrung akan hal-hal baru maka koperasi perlu memberikan tawaran yang menarik dengan isu-isu kekinian.

Menurut Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Prof. Rully Indrawan, saat ini dikota-kota mulai bermunculan koperasi-koperasi anak muda yang bergerak di industry kreatif seperti film, kuliner, music dan aplikasi mobile. “Minggu lalu saya diundang bertemu dengan anak-anak muda kreatif di Jakarta yang membentuk koperasi film dan koperasi café”.

Koperasi memang harus bisa mengakomodir kepentingan-kepentingan generasi millennial sehingga memilih koperasi sebagai wadah berusaha. Untuk lebih mempermudah pembentukan koperasi rencana dalam RUU Perkoperasian cukup 9 (Sembilan) orang sebagai syarat minimal mendirikan koperasi” papar Rully Indrawan.

Dr. Noer Sutrisno menyoroti postur partisipasi masyarakat berkoperasi di berbagai negara serta kontribusi koperasi terhadap PDB. Dibandingkan dengan negara-negara di Afrika dan Timur Tengah posisi Indonesia dinilai lebih baik dengan kontribusi PDB di sekitar 3-5% dan partisipasi keanggotaan koperasi pada angka di angka hampir 10%.

Tinjauan ini dilakukan untuk melihat sejauhmana koperasi beroperasi dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi dan penguatan sumber daya manusia. Bahkan dalam level yang lebih kecil, Noer Sutrisno membandingkan data beberapa daerah seperti Bali, Yogyakarta bahkan Purwokerto yang secara rata-rata lebih tinggi rasio partisipasi masyarakat dalam berkoperasi dibandingkan daerah lain.

Selain lokakarya, Kongres ADOPKOP kali ini juga menghasilkan reorganisasi Kepengurusan untuk periode 2019-2022. Dr. Fahrurrozi dari Universitas Negeri Jember didaulat memimpin ADOPKOP untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Beberapa rekomendasi strategis yang dihasilkan Kongres ADOPKOP ini antara lain, perlu adanya kemasan koperasi yang lebih atraktif di era industry 4.0 agar generasi millennial tertarik berkoperasi.

Penguatan peran gerakan koperasi diharapkan lebih signifikan sekaligusmengurangi ketergantungan koperasi terhadap bantuan pemerintah. Rekomendasi lainnya, ADOPKOP diharapkan untuk lebih giat dalam mempublikasi pemikiran dan penelitian tentang perkoperasian agar pembaharuan koperasi di Indonesia dapat terus mendapatkan rujukan inovasi dan pengembangan progresif. (IN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.