Percepat Penyaluran Anggaran PEN pada UMKM, Kemenkop dan UKM Gandeng Perbarindo

Pipnews.co.id, Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM menggandeng Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia) untuk mengimplementasikan dan mempercepat penyaluran anggaran PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) bagi UMKM. Saat ini Kemenkop dan UKM sedang mendorong penerbitan keputusan Menteri Keuangan (KMK) untuk menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), serta mempercepat proses bisnis Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) dan integrasi data dengan OJK.

Perbarindo merupakan organisasi penghimpun BPR- BPRS yang termasuk ujung tombak penyaluran pembiayaan untuk UMKM. Saat ini memiliki jumlah nasabah 4 juta UMKM dengan uang yang berputar sebesar Rp122 triliun. “BPR-BPRS termasuk yang menjadi bagian program restrukturisasi, karena banyak nasabahnya yang terkendala untuk membayar cicilan bunga kredit. Kita akan fasilitasi melalui subsidi bunga yang dibayarkan pemerintah,” kata Teten Masduki usai bertemu dengan pengurus Perbarindo yang dipimpin Ketua Umum Joko Suyanto di Jakarta, Senin (29/6).

Teten juga menegaskan, pemerintah ingin penyaluran anggaran PEN di mana alokasi buat UMKM sebesar Rp123,46 Triliun, dari total anggaran PEN Rp695,2 triliun, bisa dilakukan secepatnya. Untuk itulah pihaknya bekerja sama dengan Perbarindo yang memiliki sekitar 4 juta nasabah UMKM. Segera melakukan restrukturisasi kredit, berupa penundaan pembayaran cicilan bunga pada UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kerja sama dalam pembayaran subsidi bunga oleh pemerintah ini mirip dengan KUR, yang skemanya sudah selesai, sedang yang non KUR ini antara lain, kita lakukan dengan BPR-BPRS melalui Perbarindo,” jelasnya lagi.

Masih kata Kemenkop dan UKM bahwa pihaknya juga berkeinginan memperluas kerja sama dengan Perbarindo, dalam pemberdayaan dan channeling pembiayaan bagi UMKM, khususnya pembiayan yang ramah bagi UMKM.

Siapkan Implementasi

Sementara itu Ketua umum Perbarindo Joko Suyanto mengatakan siap melakukan langkah-langkah guna percepatan kerja sama dalam penyaluran anggaran PEN ini. “Kami terbiasa bergerak cepat. Karena karakteristik BPR dan BPRS yang memiliki kemudahan dalam penyaluran kredit dan keunikan dalam menghimpun dana masyarakat dibandingkan dengan bank konvensional lain menjadi daya tarik tersendiri, sehingga BPR-BPRS masih tumbuh dan berkembang,” jelas Joko.

Menurut Joko, saat ini industri BPR dan BPRS dan jutaan nasabahnya diuji dengan adanya wabah Covid-19 ini. Pandemi tersebut telah berdampak ke berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali sektor ekonomi dan keuangan. “Dampak yang dirasakan oleh industri BPR dan BPRS yakni turunnya kemampuan nasabah membayar angsuran dan meningkatnya penarikan dana simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya lagi.

Dengan adanya kerja sama dalam penyaluran anggaran PEN ini, Joko optimis para nasabah BPR-BPRS yang umumnya UMKM akan banyak terbantu. “Jaringan kami terbentang dari Sabang sampai Merauke di mana ada sekitar 6 ribu outlet dengan jumlah BPR-BPRS sebanyak 1.600,” tambahnya. (Esawe).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.