Nasional

Produksi Susu Sapi Baru 1,5 Juta Liter dan Konsumsi 8 Juta Liter, Kemenkop dan UKM akan Upayakan Kejayaan Koperasi Susu

Pipnews.co.id, Bandung – Konsumsi susu rakyat Indonesia sebesar 8 juta liter, sementara produksi baru 1,5 juta liter. Artinya, kebutuhan susu nasional masih didominasi oleh susu impor. Karena itu sektor persusuan nasional harus menjadi satu kebijakan secara nasional. Maka semua lini harus mengikuti arahan Presiden RI Joko Widodo, dimana semua harus fokus di sektor produksi, terutama yang berorientasi ekspor dan substitusi impor.

Terkait hal tersebut, sehingga keberadaan koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) sebagai koperasi sektor riil cukup layak terus dikembangkan. Untuk itu ada kebutuhan terkait peremajaan indukan sapi yang berkualitas, agar produktifitas petani meningkat. Selanjutnya masalah kebutuhan lahan untuk pakan ternak dan kenudian soal pembiayaan. Demikian ditegaskan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, usai meninjau Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) di Lembang, Bandung, Selasa (24/12).

Dalam mengupayakan maksudnya tersebut Teten menegaskan akan berkoordinasi dengan beberapa kementerian, terutama untuk mengakses lahan milik PTPN sebagai lahan pakan ternak. Juga koordinasi dengan kementerian lain menyangkut impor indukan, dan sebagainya. Selain itu Kemenkop akan kerja sama dengan Kementan untuk memproduksi susu, Kemenkes supaya anak-anak sekolah secara berkala mengkonsumsi susu untuk mengurangi stunting, Kementerian BUMN supaya bisa memanfaatkan lahan-lahan yang idel atau lahan nganggur.

Kemudian soal dukungan pembiayaan Kemenkop sendiri memiliki LPDB KUMKM. Untuk pemiayaan yang lebih luas lagi imbuh Teten juga sudah tidak ada masalah. Pasalnya, saat ini sudah ada KUR khusus untuk peternak dengan jangka waktu kredit lebih panjang. “Kita sudah ada itu, dan saya pikir sudah tidak menjadi masalah lagi dan kedepan peternak akan makin sejahtera, kebutuhan sapi, domba, kambing makin banyak,” tegas Teten.

Sebelumnya dalam diskusi di kantor Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat, Teten menyatakan, bangkitnya koperasi susu sangat diharapkan untuk menguatkan ekonomi rakyat. Dalam 10 tahun  ke depan Indonesia menghadapi bonus demografi yaitu kondisi proporsi jumlah penduduk usia produktif terbesar dalam piramida penduduk Indonesia. “Peningkatan jumlah penduduk disertai dengan peningkatan permintaan masyarakat akan bahan pangan termasuk di dalamnya produk susu dan olahannya, ini akan menjadi momentum bagi para peternak untuk terus meningkatkan produksinya guna memenuhi kebutuhan susu nasional tanpa bergantung pada produk impor,” kata Menkop.

Masih ditegaskan Teten bahwa perlu adanya kerjasama lintas sektor untuk memanfaatkan lahan perhutanan sosial untuk hijauan. Kerja sama dengan industri tepung untuk pengadaan weat pollard sebagai bahan baku konsentrat dan peningkatan mutu genetik melalui pengadaan sapi perah impor dengan skema pembiayaan KUR khusus peternakan. “Saya sudah diskusi dengan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), dan sudah memetakan problem-problem untuk membangkitkan kembali koperasi susu di Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu, pengurus GKSI Unang Sudarma mengatakan, minum susu merupakan cara yang paling mudah untuk meningkatkan gizi, susu makanan paling mudah dicerna. Untuk itu ia berharap agar kendala-kendala terkait produksi susu harus segera diatasi. Kendala itu antara lain pengadaan populasi bibit sapi perah dan kurangan modal. “Yang lebih penting juga bagaimana agar generasi milenial tertarik menjadi peternak sapi. Kini, usaha sapi perah menjadi usaha yang cukup menarik dengan menggunakan tekhnologi, tidak lagi terkesan kotor, kumuh dan kampungan,” harap Unang.

Sedangkan Dirut PT Industri Susu Alam Murni Yusuf Munawar mengungkapkan, hal yang sama terkait sulitnya mendapatkan bibit yang bagus. Yusuf pun sepakat bila peternak susu ini dikelola koperasi akan menurunkan biaya produksi hingga 25%. “Kapasitas produksi 200 ton, dan saat ini baru dimanfaatkan 75%. Karenanya kami masih bisa memproduksi susu lebih banyak lagi jika bahan baku susunya tersedia,” jelas Yusuf.

Adapun peneliti dari Fakultas Peternakan Unpad Dr Ir Andre R Daud juga mengungkapkan permasalahan industri susu, produksi susu mengalami penurunan, harga produk rendah dan biaya produksi tinggi. Untuk itu Andre meminta bagaimana upaya menurunkan biaya produksi peternak sapi perah. “Alih fungsi lahan untuk ketersediaan hijauan yang makin berkurang,” saran Andre Daud.

Andre menyarankan, untuk perluasan pemasaran, jangan hanya menjual bahan baku susu, tapi bagaimana bisa penyedia bahan jadi atau susu olahan. Dalam hal ini kerja sama dengan Kementan sangat diharapkan, “Saya berharap Kemenkop sebagai bapaknya yang mencari dananya, Kementan sebagai ibunya yang mengelola industrinya,” pungkas Andre Daud. (Slamet AW).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button