Sri Mulyani : Meskipun PDB Sudah Minus Pada 5,32%, Indonesia Belum Resesi

Pipnews.co.id, Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DR Suharyanto mengatakan, BPS mencatat pertumbugan ekonomi Indonesia pada kwartal II 2020 mengalami kontraksi atau minus 5,32%.

“Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2020 tercatat mencapai 2,96% atau mulai menunjukkan adanya perlambatan,” kata Suharyanto dalam siaran pers (5/8).

Menyusul diumumkannya PDB minus 5,32% telah menuai banyak komentar dari beragam kalangan dan ada yang menyebut negara Indonesia sudah masuk fase resesi.

Menurut Sri Mulyani, suatu negara baru dapat dikatakan masuk ke fase resesi. Apabila realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (yoy) terkontraksi selama dua kuartal berturut turut. “Biasanya dalam melihat resesi itu, dilihat year on year dua kuartal berturut turut,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta (5/8)

Oleh karenanya lanjut dia, dengan teori tersebut Indonesia belum dapat dikatakan masuk ke fase resesi. Pasalnya, kalau dilihat secara tahunan realisasi pertumbuhan ekonomi RI baru terkontraksi satu kali tahun ini.

Pada kuartal I 2020 realisasi pertumbuhan ekonomi nasional 2,97 persen (yoy), artinya masih positif dan belum minus. “Sedang minus itu terjadi pada Kuartal ke-II,” jelas Menkeu Sri.

Dengan terkontraksinya pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke-II 2020, Sri Mulyani berkomitmen menjaga perekonomian nasional pada kuartal berikutnya, agar terhindar dari zona negatif sehingga Indonesia tidak masuk ke fase resesi. “Kalau kuartal III bisa kita hindarkan, maka kita Insya Allah tidak secara teknical mengalami resesi,” imbuh Sri Mulyani. (Yan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.