Thamrin Baso, Jadi Ketua Umum Pusat Koperasi Pelayaran Rakyat

Pipnews.co.id, Jakarta 3 Agustus 2018

Menyusul meninggalnya Ketua Umum Pusat Koperasi Pelayaran Rakyat (Puskopelra) H. Amdah SH (karena sakit) di kota Cirebon Jawa Barat pada 7 Mei lalu, maka sejak itu poisisi yang dipegang oleh Almarhum di Puskopelra menjadi lowong.

Namun begitu, kekosongan itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, pada 7 Juli 2019, saat Puskopelra mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2017, jabatan ketua umum itu dialihkan untuk dipegang oleh HM Thamrin Baso SE, yang tak lain adalah Bendahara Puskopelra pada periode yang sama.

Lantaran itu, saat ini selain duduk sebagai bendahara Puskopelra, Thamrin Baso sekaligus juga merangkap Ketua Umum Puskoperla. Tugas rangkap yang diembannya itu, akan berakhir sesuai masa bakti kepengurusan Puskopelra 2015-2019.
“Atau dengan kata lain, jabatan itu akan berakhir bersamaan dengan pemilihan pengurus baru Puskopelra periode 2019-2024, yang sudah pasti akan dilaksanakan pada awal tahun 2010” tutur Thamrin Baso, kepada Pipnews.co.id, saat berbincang di kantornya di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta pusat (2/8/2018).

Thamrin, yang juga duduk sebagai Anggota Badan Pengawas di Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) mengaku, ia tak menduka kalau Amdah (Alm) pergi secepat. Pada awal Mei, Almarhum masih berbincang dengan dirinya di kantor Puskopelra, sebelum kemudian minta pulang ke rumahnya di Cirebon karena merasa kurang sehat. Almarhum kata Thamrin, adalah juga Ketua Primer Koperasi Pelayaran Rakyat (Kopelra) Cirebon.

Sekadar diketahui, Puskopelra adalah satu diantara Koperasi Sekunder Tingkat Nasional, yang hingga saat ini masih tetap eksis, dengan aset Rp 7,4 Miliar. Selain punya kantor betingkat tiga di Jalan Raya Gunung Sahari, Jakarta Pusat, koperasi ini juga memiliki dua unit Galangan Kapal, satu di Mantuil, Banjarmasin dan lainnya di Palembang. Dua galangan kapal ini adalah sumber utama pendapatan Puskopelra.

Meskipun masih eksis, namun anggota Puskopelra semakin tahun semakin menciut. Kini tinggal 11 unit Kopelra, dari tadinya 24 unit. Adapun Kopelra tersebut, Kopelra Sunda Kelapa, Kopelra Kalibaru (keduanya di Jakarta), Kopelra Cirebon, Kopelra Gresik, Kopelra Surabaya, Kopelra Ujungpandang, Kopelra Sinjai, Kopelra, Balikpapan, Palembang dan Pontianak.

Menurut Thamrin, menciutnya anggota Puskopelra karena sudah tutup buku, lantaran kalah bersaing dengan angkuta laut dari kapal besi. Di lain pihak barang komoditi Bulog yang sebelum revormasi diantar-pulaukan oleh Perahu Layar Motor (PLM) milik anggota Kopelra sudah tidak ada lagi.

Sebaliknya, hasil hutan berupa kayu dan rotan dari Kalimantan dan Sulawesi yang selama ini juga menjadi muatan utama PLM ke pualau Jawa, juga sudah tidak ada lagi. Maka itu ia berharap, pemerintah dapat memberikan solusi melalui kebijakan untuk menghidupan kembali PLM, dan merupakan bagian dari angkutan Tol Laut.
“Sebagai misal, barang-barang milik BUMN, misalnya pupuk dan semen yang diantar pulaukan ke daerah-daerah diberikan kemudahan untuk diangkut melalui PLM,” kata Thamrin menutup perbincangan. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.