Transformasi Digital bagi UMKM,Bisa Menjadi Solusi di Tengah Pandemi Covid-19

Pipnews.co.id, Jakarta – Semua menyakini sektor usaha yang paling terdampak akibat pandemi virus Covid-19 adalah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM. Tak sedikit pelaku UMKM yang kehilangan pendapatan dan tidak bisa mencicil pembiayaan, hingga usahanya bangkrut karena berkurangnya penghasilan. Namun ada sejumlah UMKM yang bisa memanfaatkan peluang untuk bertahan dan tumbuh, yakni mereka yang sudah terhubung dengan marketplace online melalui sistem digital.

Tidak lain pemerintah telah banyak menerapkan kebijakan, salah satunya masyarakat bisa berbelanja secara online. Namun demikian, UMKM yang terhubung melalui sistem digital masih relatif kecil. Baru sekitar 13 persen atau sekitar 8 juta pelaku UMKM dari total lebih 60 juta. Sementara yang 87% UMKM masih mengandalkan sistem offline. Demikian ditegaskan Menteri Koperasi dan UKM. Teten Masduki, dalam Dialog Webinar dengan tema “Resep UMKM Kuliner Bangkit Bersama GoFood”, di Jakarta, Senin (29/6).

Teten menambahkan, bahwa pihaknya terus mendorong percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM. Karena itu imbuhTeten, UMKM yang bertahan diharuskan melakukan adaptasi bisnis dan melakukan inovasi produk, menyesuaikan dengan permintaan pasar. Menurut dia, data penjualan e-commerce di Bank Indonesia, pada Mei lalu meningkat 18%. Bahkan Katadata mencatat lebih besar lagi, hampir 2 kali lipatnya. “Kenapa bisa meningkat, karena ada kebijakan sosial distanching, PSBB WFH, orang akhirnya belanja lewat online. Sayangnya, baru 13 persen itu masih sedikit, atau hanya sekitar 8 juta pelaku UMKM, sedangkan 87 persennya masih offline,” tegasnya.

Lanjut Teten, banyak dari mereka yang kemudian banting setir ke bisnis kebutuhan makanan dan minuman, kebutuhan pokok. Termasuk kebutuhan pribadi, minuman herbal, alat kesehatan termasuk keperluan di rumah. Mereka ini yang bisa bertahan. Untuk itu pihaknya sudah sejak awal telah membantu adaptasi bisnisnya.

Ke depan menurut Teten, perilaku konsumen akan mementingkan barang konsumsi, terutama makanan dan minuman yang bersih dari Covid-19. Sepanjang kemasan dan pengolahan higenis menjadi sangat penting. “Kedepan kita hadapi kebiasaan baru dari perilaku konsumen. Dengan lebih mementingkan barang konsumsi yang bersih dari Covid-19. Ini yang terkait kemasan dan pengolahan secara higenis, sehingga belanja online menjadi tren dan standarnya meningkat,” ujarnya lagi.

Teten kembali menegaskan, bahwa pihaknya akan menjalin kerja sama dengan market online melalui pelatihan-pelatihan, agar semakin banyak pelaku UMKM yang dapat memperluas akses market. Hemat dia, cara digitalisasi ini akan mendorong bisnis menjadi lebih efisien, serta akses pembiayaan akan menjadi lebih mudah. Teten juga berharap GoFood bisa membangun “rumah produksi“ agar UMKM bisa bersaing dengan pebisnis besar.

Ke depan kata Teten, rekam digital akan menjadi pertimbangan untuk mengajukan pembiayaan. Seperti GoFood, yang bermitra dengan UMKM, dengan cash flow yang jelas. Data tersebutlah yang akan memudahkan bank untuk mempertimbangkan dan memberikan pembiayaan. Kemenkop dan UKM menurutnya sudah lama punya ide untuk mendirikan rumah produksi bersama. “Kenapa hal ini penting, karena UMKM dalam negeri harus bisa bersaing dengan memanfaatkan e-commerce. GoFood bisa memulai dengan membangun dapur bersama yang dapat membantu mitranya, yaitu pelaku UMKM, agar lebih meringankan biaya produksinya,” pungkasnya.

Sementara itu Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan skala bisnis para pelaku usaha UMKM kuliner. Menurutnya Gojek Grup mengambil satu langkah lebih maju, dengan menyediakan ekosistem terlengkap yang lebih dari sekadar teknologi. Salah satunya, menambahkan keterampilan para pelaku UMKM kuliner lewat platform edukasi dan berjejaring (networking), sehingga mereka memperoleh pengetahuan lebih dalam tentang berbisnis, langsung dari sesama pelaku usaha.

“Pandemi ini mengajarkan kami banyak hal. Dari awal berdiri, GoFood berkomitmen untuk meningkatkan skala bisnis para pelaku usaha UMKM kuliner. Kini kami mengambil satu langkah lebih maju dengan menyediakan ekosistem terlengkap yang lebih dari sekadar teknologi. Kami juga terus menghimpun arus permintaan dengan ekspansi layanan dan kategori makanan yang disesuaikan dengan perilaku baru masyarakat saat ini,” jelasnya. (Esawe).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.