UKM dan Koperasi Mampu Bertahan di Tengah Gejolak Ekonomi Global Termasuk dalam Hadapi Naiknya Dollar

Pipnews.co.id, Jakarta – Revitalisasi koperasi membawa dampak positif terhadap perkembangan koperasi di tanah air. Setelah terjadi pemangkasan terhadap koperasi-koperasi yang tidak aktif, membuat pembinaan koperasi yang aktif akan fokus.

Revitalisasi koperasi menekankan adanya koperasi berkualitas. Meski jumlahnya relatif turun tetapi kinerjanya meningkat. Setidaknya sekitar 40.013 koperasi dengan klasifikasi, tidak aktif, tinggal papan nama dan bermacam kriteria negatif lainnya, sudah dibekukan statusnya.

Untuk itu Kementerian Koperasi dan UKM optimis perekonomian Indonesia akan lebih baik pada 2019 mendatang. Demikian sektor koperasi mewarnai geliat ekonomi tersebut dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat. Setidaknya pergerakan adanya perkembangan koperasi tersebut dapat dilihat kontribusinya yang terus meningkat terhadap Produk Domestik bruto (PDB).

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi dalam acara Diskusi Panel Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang dan Tantangan Bagi KUKM di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta Rabu (7/11).

“Koperasi dan UKM telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB. Begitu juga secara makro koperasi dan UKM terjadi pertumbuhan signifikan, seperti kontribusi UKM koperasi pada PDB dari tiap tahun yang meningkat,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kontribusi koperasi saat ini 4,48% dan pada periode 2016 masih 3,9%. Sehingga sesuai program reformasi total koperasi sudah sejalan dengan pelaksanaan revitalisasi koperasi. “Kenyataanya kalau dicermati banyak koperasi yang sesungguhnya tidak aktif, dan kita khawatir kalau tidak segera dibubarkan malah bisa-bisa menjadi zombie, muncul hilang lagi dan terus mengganggu,” ujar Zabadi lagi.

Zabadi juga menjelaskan meskipun ada pembubaran tidak menjadi menurunnya performance koperasi, sebaliknya justru tetap peningkatan kontribusi koperasi terhadap PDB.

Sementara pemakalah lain yakni Ryan Kiryanto, Coorporate Secretary dan Chief Economist Bank BNI, mengungkapkan gejolak ekonomi global berdampak terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dimana hal terseut disebabkan adanya supply chain atau rantai pasok yang membentang antara investasi ke korporasi besar dan berpengaruh sampai pada pengusaha skala UMKM.

Bahkan Ryan Kiryanto menyinggung kalau bulan depan Federal Reserve System (The Fed) atau bank sentral Amerika Serikat dipastikan akan menaikan Federal Funds Rate (FFR) atau suku bunga antarbank. Walau dikatakannya kita tidak perlu kuatir bahkan pihaknya tetap optimis Indonesia akan dapat bertahan.

“Tak dipungkiri ekonomi global akan mempengaruhi ekonomi negara berkembang seperti Indonesia. Termasuk mempengaruhi nilai kurs mata uang rupiah yang disebakan menguatnya dollar US. Tapi jangan kuatir, segmen pelaku usaha relatif kita mempunyai daya tahan yang baik terhadap perubahan ini, sebab mereka sudah terbiasa menghadapi perubahan,” jelasnya.

Yang dimaksudkan adanya peruahan adalah pengalaman terhadap terjadinya krisis ekonomi global yang sudah beberapa kali melanda. Sehingga dengan kejadian-kejadian tersebut, pemerintah tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi dapat tetap berada di atas 5 persen.

Demikian daya beli masyarakat Indonesia kata dia juga terpantau masih terjaga baik. “Kondisi ini terlihat dari tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal 3 tahun ini mencapai sekitar 5,01%. Namun sebelumnya malah lebih tinggi, yakni menyentuh 5,14% pada kuartal kedua.

Sisi alinnya stabilitas tersebut dapat dilihat dari daya beli masyarakat yang bertransaksi menggunakan instrumen pembayaran (ATM debit) yang masih berada dalam tren meningkat. Per Agustus 2018, transaksi ini tumbuh 9,4% year on year (yoy) yakni didominasi instrumen ATM-debit dengan pertumbuhan 9,1% yoy yang berarti imuh Ryan masyarakat memiliki uang yang disimpan, beda apabila dalam berbelanja menggunakan kartu kredit.

Adapun pembicara yang mewakili pelaku usaha UKM, Juan Firmansyah, (business developtment and sales officer Du’anyam/salah satu official partner merchandise Asian Games ke 18) mengakui adanya dampak gejolak ekonomi global yang dirasakannya langsung. Harga bahan baku dari vendor dan mitra kerja, seperti kulit impor, sempat mengalami peningkatan seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar beberapa waktu belakangan. Bahan baku itu digunakan sebagai komplementer untuk membuat produk jadi berupa anyaman.

“Dengan peningkatan harga dari vendor kita harus melakukan perubahan harga terhadap klien. Walaupun kenaikkan harga per produk tidak sampai 10 persen, tetapi kalau diakumulasi adanya kenaikkan tersebut tetap terasa berat. Sehingga kami mengkomunikasikan dengan klien. Untungnya, mereka juga memahami,” jelasnya.

Terkait menguatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah, pemerintah pun kata Ryan telah mengantisipasinya. Pada APBN 2019 telah ditetapkan Rp15 ribu untuk satu dollar AS. Dengan demikian Amerika Serikat yang akan merubah suku bunganya dan dipastikan akan menaikkan inflasi sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, namun kita diyakini tetap akan mampu mengendalikannya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.