Tingkatkan Daya Saing UMKM di Pedesaan, Kemenkop-UKM Terapkan 12 Program Unggulan

Pipnews.co.id – Program strategis Kemenkop dan UKM pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan daya saing UMKM, khususnya di kawasan desa di seluruh Indonesia secara holistic di tataran konsep. Demi tercapainya program tersebut sangat penting untuk disusun strategi nasional pengembangan UMKM secara sinergi dengan seluruh kementerian/lembaga (K/L).

Demikian disampaikan Plt Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Rosdiana Veronica Sipayung, dalam acara Forum Komunikasi Staf Ahli Menteri bertema “Pengembangan Usaha UMKM Berbasis Budaya di Desa” di Kota Cirebon, Kamis (9/8).

Pada acara yang menyertakan sekitar 40 Staf Ahli Menteri di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Rosdiana mencontohkan beberapa sinergi dengan kementerian lain yang perlu dipertajam. Diantaranya, pengembangan desa wisata dengan pemberdayaan masyarakat baik melalui koperasi ataupun BUMDes.

“Selain itu, program pengembangan usaha berbasis komoditas unggulan lokal seperti OVOP (One Village One Product) maupun Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan). Semuanya dilakukan dengan pendekatan usaha berbasis komoditas lokal dengan skala industri dan secara bisnis profesional lebih efektif dan sustainable atau berkelanjutan,” jelas Rosdiana.

Masih lanjut Rosdiana, sinergi yang dilakukan dengan Kemendes PDTT juga melalui pemasaran produk pedesaan melalui aplikasi. Bahwa pada tahap awal akan diuji coba dipasarkan melalui Koperasi Karyawan di Jakarta. Dengan demikian kata Rosdiana mengharapkan petani dan produsen menikmati nilai tambah, dan konsumen mendapatkan keuntungan dengan harga lebih murah dan kualitasnya baik.

Sedangkan uji coba aplikasi kerja sama dengan Kopkar di Jakarta imbuh Rosdiana karena anggota Kopkar adalah para karyawan yang memiliki penghasilan yang pasti setiap bulannya. Sehingga kalau ingin belanja tinggal online dan setiap akhir bulan bayarannya bisa langsung potong gaji. “Kita ingin aplikasi online tersebut untuk mempermudah karyawan belanja,” tukas Rosdiana.

Rosdiana menyebut bila buah alpukat kualitas baik dari Soe NTT di petani harga Rp 2000 per kilogram, namun dijual di supermarket All Fresh harganya mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Menurut dia setelah dilakukan penelitian dan diidentifikasi pemotongan rantai distribusi, dapat dijual seharga Rp 38 ribu di tataran konsumen, dan petani mendapat Rp 13 ribu. Sehingga, petani pendapatannya meningkat dan konsumen juga menikmati potongan harga. Hal tersebut karena dilakukan pemasaran melalui aplikasi online.

Kecuali itu, Rosdiana juga menyebut adanya peran pemerintah daerah dalam pengembangan UMKM, termasuk di kawasan desa, yang tertuang dalam UU 20/2008 tentang UMKM dan PP 17/2013 tentang pelaksanaan UU 20/2008. “Yang dilakukan dengan cara pengembangan usaha, kemitraan, perizinan, hingga koordinasi dan pengendalian,” imbuh Rosdiana.

Yang pasti, tandas Rosdiana ada sekitar 12 program unggulan Kemenkop dan UKM yang bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain, dalam mengembangkan UMKM di pedesaan. Yaitu, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM, Pariwisata (Panduan Desa Wisata Hijau), One Village One Product, Standarisasi dan Sertifikasi, Revitalisasi Pasar, Penataan data Nomor Induk Koperasi (NIK), Fasilitasi Pembuatan Akta Koperasi bagi usaha mikro, fasilitasi Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK), pengembangan kewirausahaan, perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR), penyediaan dana bergulir, hingga fasilitasi UKM tenant dalam Galeri Indonesia WOW.

“Sedangkan untuk pendanaanya bisa memanfaatkan LPDB KUMKM dengan suku bunga rendah untuk usaha produktif UMKM. Hal tersebut telah dirasakan desa binaan Kemendes PDTT,” ungkap Rosdiana. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.