KOPERASI PEMUDA DAN MASA DEPAN KOPERASI INDONESIA; “Sebuah Upaya Membangun Ruang Inovasi”

Pipnews.co.id, Jakarta, 28 Oktober 2018

Oleh : Muhammad Risal *)

Harus kita akui bahwa masa depan koperasi tergantung dari upaya tersistematis membangun Kultur dan Nilai koperasi di kalangan pemuda. Kultur dan nilai ini dapat kita tanamkan melalui pendidikan yang sifatnya learning by doing, sehingga generasi milenial tidak sekedar mendengar teori-teori koperasi, yang kadang usang soal model penyampaiannya kepada meraka.

Koperasi harus memberikan pengalaman berharga bagi generasi milenial sejak dini, dengan pengalaman tersebut mereka bisa menjiwai nilai koperasi dalam praktek kehidupan sehari hari. Koperasi harus mampu menghadirkan ruang inspirasi bagi keberlangsungan masa depan generasi muda. Dengan demikian maka koperasi tidak lagi sekedar menjadi cerita kuno di kalangan generasi milenial tetapi benar – benar hadir sebagai solusi masa depan pemuda di Indonesia.

Sayangnya koperasi hari ini di kalangan generasi milenial masih menjadi barang langka, koperasi tidak hadir sebagai pilihan masa depan generasi milenial. Saya mencoba menggunakan data hasil penelitian yang dilakukan oleh kementerian koperasi dan hasilnya begitu sangat membuat kita ragu akan perkembangan koperasi di masa mendatang. Datanya menunjukkan bahwa hanya sekitar 2- 10% jumlah mahasiswa yang tertarik bergabung di koperasi mahasiswa yang ada di kampus. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan culture dan penanam nilai koperasi secara makro di Indonesia masih belum menemukan wujudnya.

Campaign Koperasi Dikalangan generasi Milenial masih sporadis

Di era digital ini, sebetulnya tidak ada alasan untuk mengatakan koperasi belum terlalu popular secara menyeluruh di kalangan generasi milenial. Saat ini adalah era keberlimpahan informasi, penyebarannya informasi begitu sangat cepat, mampu menembus hingga pelosok negeri.

Fakta yang lain bahwa generasi milenial adalah generasi yang sangat akrab dengan gadget, yang setiap hari menghabiskan waktu minimal 8 jam untuk bermain di dunia maya melalui gadget yang dimilikinya. Lalu pertanyaannya, Kok Koperasi tidak mampu popular di kalangan generasi milenial?

Campaign koperasi tidak dilakukan secara tersistematis, pemerintah dan elemen atau kelompok gerakan koperasi pemuda belum sinergis dalam melakukan upaya penyadaran koperasi terhadap generasi milenial.Bahkan kecenderungan pada elemen-elemen tersebut saling bertabrakan dalam melakukan branding koperasi di kalangan generasi milenial.

Roadmap Pendidikan Koperasi di kalangan generasi milenial yang tidak padu padan

Sering saya menyampaikan dalam beberapa kesempatan, bahwa pendidikan koperasi dikalangan generasi milenial harus di awali dengan menyusun roadmap pendidikannya secara padu antara semua elemen yang selama ini bergerak dalam upaya pendidikan koperasi di kalangan generasi muda. Dengan adanya roadmap tersebut maka dengan sendirinya akan terbangun budaya dan nilai iliarasi dikalangan generasi milenial. Dengan demikian ekosistem koperasi akan terbangun dalam kehidupan sehari hari generasi milenial.

Penggerak Koperasi di kalangan pemuda diantaranya ada KOPINDO (Koperasi Pemuda Indonesia) sebagai satu-satunya koperasi sekunder nasional di kalangan pemuda dan mahasiswa, ada Badan Komunikasi Pemuda Koperasi (BKPK) sebagai wadah gerakan cooperator muda Indonesia, ada FKKMI (Forum Komunikasi Koperasi Mahasiswa Indonesia) sebagai forum berkumpulnya ketua-ketua Kopma dalam mengelola isu strategis terkait perkembangan koperasi mahasiswa di kampus. Serta ada asosiasi Koperasi mahasiswa di masing – masing wilayah. Selama ini element tersebut berjalan secara sendiri – sendiri. Dalam melakukan transformasi spirit perjuangan koperasi cenderung hanyak berputar dalam lingkungannya sendiri, tidak mampu membawa spirit tersebut kepada kelompok – kelompok pemuda yang lainnya.

Kemenkop Abai dalam Membangun Ekosistem Koperasi Milenial

Selama ini kementerian koperasi tidak melihat elemen gerakan koperasi pemuda secara strategis. Hal tersebut sangat muda kita simpulkan dengan melihat program pendidikan yang dilaksanakan. Kementerian koperasi hanya melihat secara praktis gerakan koperasi pemuda, sekedar memberikan pelatihan perkopersian, yang paling menyedihkan materi pelatihannya cenderung itu – itu saja. Dan yang sangat memprihatinkan lagi pelaksanaanya yang juga kadang tidak efektif cenderung hanya untuk melaksankan proyek pelatihan saja.

Seharusnya kementerian koperasi melihat elemen gerakan koperasi pemuda di atas diajak berdialog untuk menggagas roadmap pendidikan koperasi di kalangan generasi milenial. Kementerian koperasi harus ebih objektif melihat kelompok – kelompok tersebut sebagai masa depan gerakan koperasi Indonesia.

Elemen gerakan koperasi pemuda juga harus mampu menempatkan dirinya sebagai kelompok strategis yang mampu menciptakan karya dalam upaya pembangunan koperasi Indonesia dimasa mendatang. Juga harus senantia menjadi mitra kritis terhadap kebijakan – kebijakan kementerian Koperasi yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan koperasi secara umum dan Koperasi pemuda secara khusus.

DEKOPIN Belum Ramah Terhadap Anak Muda Koperasi

Dekopin sebagai lembaga tunggal yang menghimpun gerakan koperasi diseluruh Indonesia adalah ruang perjuangan bagi masyarakat KOPERASI untuk mengkolaborasikan segenap kekuatannya dalam rangka membumikan prinsip prinsip koperasi dalam kehidupan bermasayarakt demi terciptanya ekonomi berkeadilan ditengah ketimpangan yang semakin krusial melanda bangsa kita.

Sayangnya dalam perjalanannya DEKOPIN belum Nampak hadir dalam ruang ideal sebagai wadah tunggal gerakan koperasi di Indonesia. Dekopin dalam pengamatan penulis nampaknya belum mampu terkonsolidasi dengan baik, sehingga cenderung hanya dijadikan sebagai ruang untuk membangun bargaining politik dalam kancah politik nasional. Jikalau kita berharap kekuatan anak muda untuk mendobrak prestasi koperasi di Indonesia, nampaknya dekopin juga belum terlalu ramah untuk memberikan ruang yang lebih kepada generasi muda. Hal itu dengan mudah kita lihat dari pengurus DEKOPIN dan dekopinwil cenderung di monopoli oleh orang – orang tua. Ruang anak muda nyaris hanya sebagai pelengkap  demi membenarkan istilah proses kaderisasi di tubuh dekopin. DEKOPIN yang selama ini kita saksikan nampak tidak mengambil langkah secara massif untuk melakukan konsolidasi terarah, cenderung hanya sebagai pelaksana program yang di danai oleh APBN, padahal dekopin harusnya hadir untuk memberikan isnpirasi kemandirian kepada gerakan Koperasi di Indonesia. Alangkah lebih menariknya jika dekopin mulai menawarkan diri untuk dikelola ala milenial.

Koperasi Pemuda Sebagai Ruang Inovasi

Koperasi sejatinya adalah upaya atas kesadaran menghimpunkan diri dalam satu ruang kebersamaan dalam rangka menyatukan kreatifitas dengan harapan dapat meningkatkan performance diri kita setelah berhimpun di dalamnya.

Koperasi dapat kita kelolah menjadi ruang inovasi yang produktif untuk mengembangkan bisnis bagi generasi milenials dengan memposisikan koperasi sebagai pusat manajemen dari berbagai macam aktifitas kreatifnya. Koperasi dapat menunjang bisnis anggotanya melalui layanan konsultasi pengembangan produk, pembangunan jejaring pasar, hingga menunjang legalitas bisnis tersebut. Istilah kerennya dapat kita sebut sebagai provider bisnis bagi generasi milenials.

Dengan Konsep demikian akan melahirkan banyak wirausaha produktif di kalangan generasi milenials sehingga koperasi akan banyak diminati, sebab kehadirannya betul-betul memberikan kontribusi positif bagi masa depan generasi milenial….. Wallahu A’lam.

*)Penulis adalah Sekretaris Umum Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.