Biar Koperasi Maju dan Disayangi, Kenalkanlah Sejak Dini pada Anak-anak

pipnews co.id, Jakarta – Entah pemerintah atau masyarakat yang berkewajiban memperkenalkan perkoperasian pada anak-anak, sehingga ilmu tersebut bisa melekat di hati anak bangsa. Faktanya sudah puluhan tahun pendidikan koperasi raib dari bangku sekolah. Wajar jika koperasi tetap dipandang asing oleh masyarakat. Meskipun katanya kedudukan koperasi cukup tinggi, yakni sebagai pilar ketiga perekonomian nasional. Namun itu hanya mimpi di siang bolong, sepanjang keilmuan di bidang koperasi tak diajarkan wajib seperti ilmu-ilmu lainnya di sekolah-sekolah.

Mestinya disambut lebih semangat tak sekadar hanya diapresiasi oleh Kementrian Koperasi, jika ada pihak-pihak yang ikut membangun ilmu pengetahuan perkoperasian di sekolah sejak dini.

Seperti kejadian pada siang Selasa,(10/9), Kantor Kementerian Koperasi dan UKM kedatangan tamu dari siswa-siswi yang duduk di bangku kelas VI SD Bhakti Mulya 400 Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Deputi Bidang Kelembagaan Luhur Pradjarto pun menyambut baik dan mengapresiasi situasi tersebut. Mengingat suasana demikian hampir tidak pernah ada. “Baru kali ini Kementerian Koperasi dan UKM mendapat kunjungan dari siswa SD. Ini langkah positif untuk memperkenalkan koperasi sejak usia dini kepada anak-anak SD,” kata Luhur senang di Auditorium Kemenkop dan UKM, Jakarta.

Menurut Luhur, siswa SD merupakan kader bangsa yang perlu dikenalkan pada koperasi lebih jauh. “Pengenalan koperasi siswa (Kopsis) kepada anak didik yang masih di bangku SD sangatlah penting”, tandas Luhur.

Ia menambahkan, sebagaimana pepatah tak kenal maka tak sayang, sehingga koperasi harus dimasyarakatkan mulai anak-anak di tingkat sekolah dasar. Sebagaimana besarnya koperasi kredit union, salah satunya kata Luhur memang telah dikenalkannya pada usia dini.

Melalui koperasilah lanjut Luhur, anak-anak sekolah bisa diajarkan bagaimana hidup bergotong-royong, hingga latihan berorganisasi. “Disadari bahwa pada tahap awal mereka diajari agar memanfaatkan keberadaan Kopsis untuk belanja memenuhi kebutuhan sekolah, seperti alat tulis dan seragam,” jelasnya lagi.

Dalam kunjungan tersebut, Luhur pun memberikan edukasi pada anak-anak tentang pengenalan perkoperasian dalam bentuk animasi dan beberapa tayangan yang dihiasi dengan gambar-gambar lucu versi anak-anak. “Dengan pemaparan ini, diharapkan akan mempermudah bagi anak-anak untuk mencerna, apa itu koperasi,” imbuh Luhur.

Atas adanya kunjungan tersebut, Luhur berharap dapat dijadikan momentum bagi sekolah-sekolah untuk memasukan modul perkoperasian ke dalam kurikulum pelajaran di tingkat sekolah dasar, SLTP dan SLTA..

Sementara itu Kepala Sekolah SD Bhakti Mulya 400, Elyani Umas, mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Koperasi dan UKM yang telah memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk berkunjung dan mendengarkan langsung penjelasan tentang apa itu koperasi. “Anak-anak juga bisa memahami bagaimana pengelolaan koperasi, siapa saja yang dapat menjadi anggota koperasi, maupun usaha apa saja yang dapat dikelola koperasi,” ujar Elyani.

Elyani menambahkan, maksud kedatangannya adalah untuk lebih mengenalkan anak-anak kepada dunia koperasi. Lanjut Elyani, dia melihat sendiri anak-anak didiknya itu, kebanyakan orangtuanya adalah pengusaha. “Jadi kita akan arahkan anak-anak untuk menjadi pengusaha. Kita ingin mereka memiliki dasar untuk menjadi pengusaha,” tuturnya lagi.

Elyani menginginkan anak-anak muridnya sudah berpikir dari kecil untuk berwirausaha. Karena banyak mindset anak-anak setelah selesai sekolah itu adalah bekerja. “Saya ingin membangun mindset anak-anak itu berwirausaha untuk membangun perekonomian bangsa,” pungkasnya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.