Pentingnya Informasi Dan Pengetahuan Tentang Pencegahan Bencana

Pipnews.co.id, Jakarta 2 Oktober 2018

Bencana alam kerap melanda negeri ini diantaranya gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, gunung meletus, rob atau banjir air laut, kebakaran hutan/lahan. Kita ketahui bahwa Indonesia bagian dari kepulauan yang secara geografis terletak di antara tiga lempeng besar (Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik), negeri ini rentan akan bencana alam. Selain itu, Indonesia juga masuk dalam zona ring of fire sehingga kemungkinan bencana bisa saja terjadi.

Faktor-faktor tersebut tentunya mengakrabkan kita dengan berbagai kemungkinan terjadinya bencana yang tidak bisa diduga-duga kapan akan terjadi dan tentunya juga mengisyaratkan bahwa penanggulangan bencana perlu dilaksanakan secara serius agar tidak sampai menimbulkan korban dan Itu semua juga tergantung bagaimana kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana.

Kesiapsiagaan bencana dapat dilakukan dengan memberikan informasi dan pengetahuan pencegahan bencana yang cukup kepada masyarakat sehingga dampak bencana akan dapat diminimalkan. Hal tersebut telah disampaikan oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla dalam acara World Tsunami Awareness (2016) bahwa “Awareness” ini artinya kesiapan atau kehati-hatian.

Jadi yang terpenting adalah memasyarakatkan persiapan apabila ada bencana. ” Mencegah sebelum dan selagi bencana Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana “(Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).

Indonesia memiliki Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Badan ini memiliki jaringan hingga ke daerah, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bisa menjadi wadah kuat dalam masalah kebencanaan di Indonesia.

BNPB mengeluarkan buku saku tentang penanggulangan bencana yang mencakup prosedur kedaruratan seperti gempa bumi, tsunami, gunung api, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gelombang pasang, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, kecelakaan transportasi, dan lainnya.

Buku ini telah secara lengkap memaparkan prosedur menghadapi bencana bagi masyarakat. Namun, semua tidak cukup diatur melalui tulisan. Masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan mulai usia dini memerlukan bimbingan intensif terkait penanggulangan bencana sehingga tidak menimbulkan korban.

Kita bisa belajar dari negara dengan tingkat kewaspadaan bencana (emergency preparedness) cukup tinggi, misalnya Jepang dan Filipina. Di Jepang, pendidikan kebencanaan sudah diterapkan sejak di bangku sekolah dan masuk kedalam kurikulum nasional.

Begitu pula dengan di Filipina. Hal itu tidak berbeda jauh dari kampus-kampus di China. Pelatihan dan penyuluhan keselamatan dan darurat bencana dilakukan di asrama setiap permulaan ajaran baru. Beijing Jiaotong University, misalnya, selain pendidikan dan pelatihan, kampus ini juga menyediakan ruang eksibisi tentang pendidikan kebencanaan.

Belajar dari negara luar, pendidikan, pelatihan dan simulasi perlu menjadi akar utama untuk masyarakat di berbagai daerah, sehingga masyarakat tak hanya cepat tanggap setelah terjadi, tetapi juga telah siaga dan mampu bertindak pra dan pascabencana.

Kita berharap tidak ada lagi bencana di negeri ini, apalagi sampai menelan korban jiwa tetapi kita juga tidak bisa menghindarinya jika ini memang sudah menjadi KehendakNYA. Kita hanya bisa berusaha. (Annisa D Putri-PPI/MAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.