Wisudawan Ikopin Sudah Mencapai 14.441 Sarjana

Pipnews.co.id, Bandung – Satu lagi prestasi gemilang dicapai Instutut Koperasi Indonesia (Ikopin), yaitu kembali mewisuda mahasiswanya sebanyak 601 orang, dan merupakan wisudawan ke-46 sejak Ikopin didirikan pada 1984. Dengan demikian hingga sekarang sarjana yang sudah dicetak Ikopin tercatat sebanyak 14.441 orang. Mereka terdiri atas beragam displin ilmu ekonomi dengan gelar Stara Satu (S1), Strata Dua (S2) dan (Diploma3/AMD).

Wisuda ke-46 ini telah dilaksanakan pada Senin, (9/9) bertempat di Graha Suhardini, Kampus Ikopin kawasan perguruan tinggi Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Hadir dalam acara tersebut puluhan undangan yang berasal dari Kementerian Koperasi & UKM dan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

Rektor Ikopin Dr (HC) Ir Burhanuddin Abdullah dalam sambutannya menyatakan saat ini para lulusan Ikopin ini tersebar di mana-mana dan bekerja di berbagai perusahaan swasta, perusahaan koperasi dan tak sedikit yang masuk menjadi Aparat Sipil Negara (ASN).

Selain itu, lanjut Burhanudin, lulusan Ikopin merupakan ujung tombak gerakan koperasi di Indonesia. Sehingga, para wisudawan harus mempersiapkan diri untuk mengemban tugas, menaklukkan tantangan dan berkompetisi di dunia kerja yang semakin berat. “Pengetahuan dan keterampilan yang telah diemban selama di Ikopin belumlah cukup untuk mengoptimalkan peran mereka di masyarakat. Maka dari itu mereka
tidak boleh merasa puas,” katanya.

Apalagi, lanjut dia, dunia perkoperasian di Indoenesia pada hari ini juga tidak selalu menghasilkan kabar baik. Salah satunya, banyaknya koperasi di Indonesia yang masih berpegang pada esensi kuantitas dan semakin bertambah banyak. Namun, tambah banyaknya koperasi itu tidak diiringi dengan kualitas dan perannya bagi masyatrakat dan kesejahteraaan anggotanya. Sehingga, keberadaan koperasi di Indonesia tinggal hanya nama tanpa fungsi yang jelas.

“Tempo lalu jumlah koperasi ada 220 ribuan. Kementerian koperasi melakukan revitalisasi dan tinggal sekitar 138 ribuan. Jika dilihat lebih dalam kurang dari setengahnya yang fungsinya jelas dan berperan bagi masyarakat dan anggotanya,” kata Burhanuddin kepada wartawan..

Di bagian lain pidatonya Burhanuddin menyatakan, bahwa ekonomi di Indonesia harus kuat untuk menjaga dan menguatkan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Untuk itu penguatan NKRI dari sisi ekonomi menjadi sebuah keharusan, sebuah keniscayaan, di samping penguatan dari sisi-sisi lainnya,” kata
Burhanuddin.

Ia menuturkan upaya menguatkan NKRI memang sudah harus dilakukan multi-aspek dan multi-dimensi salah satunya harus dikuatkan dari sisi ekonominya. Jika difokuskan tentang kekuatan ekonomi itu, kata dia, tentang keterjaminan pangan dan energi di dalam negeri yang selama ini menjadi persoalan bangsa sejak lama. “Apalagi kita kerucutkan ke yang lebih spesifik, kita perlu penguatan di bidang food security keterjaminan adanya makanan, dan energy security, dua hal itu menjadi persoalan bangsa ini sejak lama,” katanya.

Menurut dia, persoalan dua hal tersebut belum dapat diselesaikan di Indonesia dengan baik, sehingga ke depan upaya penguatan ekonomi memang sudah seharusnya dilakukan dalam menguatkan NKRI. Ia berharap tidak terjadi kesenjangan terlalu besar yang akan membuat perekonomian bangsa rawan yang dikhawatirkan mengganggu stabilitas keamanan negara. “Ini tidak bagus dan kesenjangan itu akan melahirkan ketidakmudahan dalam hati kita, dan ini saya kira yang mengganggu stabilitas keamanan maupun stabilitas harga,” katanya. (Yan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.