Usaha Kripik Tempe “Nylekamin” Kalikudi Perlu Uluran Tangan Dinaskop UKM untuk Tingkatkan Penjualan

Pipnews.co.id, Cilacap – Bagi orang kreatif peluang untuk berkegiatan usaha bukan hal sulit. Masih banyak kesempatan yang bisa ditekuni sebagai ladang bisnis. Sektor kuliner misalnya masih terbuka lebar. Pasalnya setiap orang pasti butuh makan. Dari tingkatan kelas kehidupan dan status sosial orang selalu menggemari makanan tertentu atau sekadar buat ngemil. Faktanya kini ribuan warung yang menjajakan makanan, mulai dari warung kopi, warung tenda, kafe hingga restoran kelas elit masing-asing punya pelanggan. Kuncinya asal mereka pandai membuat menu yang mengundang selera dan dagangannya menarik pasti akan laku.

Prinsipnya tidak perlu sungkan, malu atau terbebani oleh sindrom. Apalagi merasa harga diri seolah habis setelah tidak lagi menduduki suatu jabatan jauhkan penyakit itu. Sebab jika mereka memaknai pangkat dan jabatan itu amanah. Yang bisa pergi setiap saa, meski cara mendapatkannya penuh perjuangan tetap ikhlaskan. Sepertinya langkah ini telah dicontohkan sosok dan pasangan ini bisa ditiru. Narwan Paprianto dan Yani R Toersilo, selepas tak terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) periode kedua, tak membuatnya berlama-lama nganggur.

Mereka langsung alih kemudi dengan menekuni usaha kuliner keripik tempe. Pertimbangannya dunia bisnis di era milenial sangat sesuai dengan tuntutan jaman jadi pas buat pilihan. Dampak pisitif lainnya jika usahanya berkembang bisa melibatkan orang lain ikut mendapatkan penghasilan. Perihal usaha yang dipilih pertimangannya pun sederhana. Kebanyakan orang Indonesia doyan tempe. Komoditi ini juga mudah didapat dan dibuat.    

Proses produksinya juga tidak membutuhkan lahan luas. Dari segi modal juga tidak terlalu menguras pikiran. Bisnis keripik tempe bisa mulai dari skala kecil dan dapat dibuat di rumah. Baru setelah usaha berkembang dan membutuhkan tempe dalam jumlah besar, tinggal mencari supplier yang menyediakan tempe berkualitas. Menurut Narwan yang mantan Kades Kalikudi, Adipala, Cilacap ini, dengan tempe berkualitas akan mempengaruhi cita rasa keripik yang dihasilkan.

Dia juga menambahkan jika binggung mencari supplier tempe, bisa membuatnya sendiri. Masih kata sarjana ekonomi ini, membikin tempe itu sangat mudah dan bahan-bahan yang diperlukan cukup kedelai. “Jadi berkesempatan bisnis keripik tempe ini tidak cuma menjalankan bisnis keripik tempe tok, tapi sekaligus bisa menjalankan bisnis tempenya, sehingga efisien dan untuk kedepannya masih menjanjikan,” ujarnya optimistis.

Narwan yang saat ngobrol didampingi istri setianya Yani, mengungkapkan menekuni bisnis keripik tempe dapat dijalankan oleh siapapun. Bagi yang sulit memilih mau usaha apa, usaha keripik tempe bisa menjadi salah satu opsi. Modal utamanya kata dia semangat dan pantang menyerah untuk terus membuat produknya laku di pasaran. “Segala bentuk bisnis pasti tidak ujug-ujug menyenangkan. Jarang yang berjalan mulus dan lancar. Pokoknya jangan menyerah dengan bisnis pilihannya. Jika setiap pebisnis mengharapkan keberhasilan ya diperjuangkan mimpi itu sampai terwujud,” pesannya lagi.

Masih kata dia, menekuni bisnis dengan modal kecil dan mudah dilakukan oleh siapapun, pasti resikonya akan banyak ditiru. Jadi sudah mentalnya juga sudah disiapkan jika saatnya nanti persaingan akan rapat. Kuncinya sering observasi pasar dan tujuannya pasar yang dihadapi tidak lekas jenuh. Seperti membuat varian rasa dan bentuk keripik maupun kemasan yang bagus, sehingga akan terus menarik orang untuk membeli. “Selanjutnya ya terus sungguh-sungguh berupaya dan berdoa sampai hasil yang diperoleh memuaskan. Jumlah pesaing bisnis keripik tempe tidak sedikit. Bahkan untuk saat ini hampir setiap daerah banyak yang mengembangkan bisnis keripik tempe. Itu sudah kami pikirkan sejak akan memulai,” ungkapnya saat ditanyakan soal antisipasi menghadapi banyaknya kompetitor.

Yani sang istri yang berperan sebagai marketing pun mengungkapkan soal angin dan badai akan terus menghembus dan mengguncang pasar. Jadi harus strong dan terus berupaya untuk melanggengkan usahanya. Katanya jangan sampai terhempas. Hal itu diakui, usaha yang digeluti sejak Maret 2013 ini, tidak lantas mulus dan berkemang sesuai yang diinginkan. Seperti yang dicita-citakan ingin menjadi market leader di kawasan Cilacap dan sekitarnya. Menurutnya cukup sulit diwujudkan. Awalnya kata ibu dua orang anak ini, produknya hanya belasan kilo kripik per hari, terus meningkat dan berkembang menjadi puluhan dan mampu menembus angka kuintalan.

Tapi itu diakui wajar, setiap ada produk makanan baru banyak orang yang tertarik dan membeli sehingga omset pun naik. Lama-lama kata dia hukum alam berlaku, yakni yang sejati penikmat dan suka dengan kripik dan rasanya makin enak merekalah yang akan terus mengkonsumsi. “Upaya sederhana kami kripik buatan saya ingin bisa menjadi souvenir. Misalnya kalau masyarakat kedatangan sanak saudara atau tamu dari daerah lain, untuk oleh-oleh dibelikan kuliner khas daerah setempat yakni kripik tempe, atau si tamu itu sendiri yang membeli untuk buah tangan. Dengan begitu pasaran kripik tempe saya tidak stag,” ungkapnya semangat.        

Ia mengaku bersyukur sebagai pelaku UMKM yang benar-benar bertempat di desa, jauh dari kota masih bisa memproduksi antara 40 – 50 kg per hari. Untuk mendistribusikan produksinya, Yani mengaku masih dominan di seputar Cilacap dan Purwokerto. Mulai warung-warung sampai toko oleh-oleh, dengan kemasan yang bereda-beda sesuai permintaan pelanggan. “Tapi sekarang lagi menurun mas permintaanya tidak seperti beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Seperti pemberitaan di media masa, katanya para pelaku UMKM dimanapun tengah mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Mengingat perannya sebagai penggerak ekonomi di desa-desa tidak kecil. Apalagi Kementerian Koperasi beberapa kali melansir program yang akan menaikkelaskan usaha UMKM. Dari kelas mikro menjadi usaha kecil, dari usaha kecil menjadi usaha menengah, dan dari usaha menengah mejadi skala usaha besar. Tetapi yang terakhir disebut urusannya sudah mulai kuat dalam segala hal, sehingga tidak terlalu sulit bagi pemerintah untuk membinanya. Ketimbang pelaku mikro untuk dinaikan kelasnya ke usaha kecil, dan dari usaha kecil naik kelas ke usaha menangah.

Faktaya tidak semua daerah responsif dalam membina UMKM-nya. Di Kabupaten Cilacap misalnya, meski hasil produk kripik tempe merek Nylekamin (kripik kedelai bundar 661) yang sudah berjalan 6 tahun lebih, dan kripik tempenya tersedia di banyak warung dan toko oleh-oleh, pihak dinas yang membidangi tersebut, belum pernah melihat sehingga tak mungkin akan membinanya. Kecuali pihak dari BUMN, yakni PT Telkom Purwokerto. Itu pun diakui Yani karena kebetulan punya teman bekerja di sana. “Iya mas kami dapat pinjaman ringan, kalau dari Cilacap belum ada  jadi belum pernah dibantu. Oh ya lupa, pernah sekali dibina oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) sewaktu pembuatan Nomor PIRT (Perusahaan Industri Rumah Tangga),” tuturnya lagi.

Ketika disinggung bagaimana peran Kades setempat. Yani mengatakan cukup peduli, pihak desa ikut mempromosikan. Jika desa ada acara dan kunjungan tamu selalu beli buat suguhan atau untuk souvenir.  Selain itu masyarakat Desa Kalikudi juga cukup antusias dengan usaha yang dilakukan. “Ya pembeli utama adalah masyarakat Kalikudi, bahkan mereka juga sukarela menjadi iklan gratis, yakni selalu mempromosikan kepada siapa saja tentang usaha kami ini. Pokoknya getok tular dari mulut ke mulut itulah yang cukup ampuh,” jelasnya senang.

Untuk produksi kata dia semua tenaga yang terlibat sampai pemasaran adalah tetangga dekat rumah. Soal berapa tenaga kerja yang rekrut tergantung naik turunya permintaan. Jika sedang ramai ikut nambah tenaga. Yani pun berharap ke depan usaha kripiknya menggeliat dan berkembang lagi, dan bisa dipasarkan ke luar kota yang lebih jauh sehingga akan menambah tenaga kerja.

Kecuali pinjaman yang pernah diberikan salah satu BUMN itu masih menggunakan modal sendiri. Yani pun mengaku tetap bersyukur karena sekarang produksinya masih mampu antara 40 – 50 kilogram perhari, dengan harga Rp 40 ribu per kg. Pernah pula sampai 80 – 100 kg perhari. Menurut Yani setelah bahan baku naik dan ongkos kirim juga naik, konsumen luar kota seperti dari Tasikmalaya dan Jakarta berhenti. “Soalnya kalau harga tak naikkan kami yang repot mas, kalau dinaikan mereka nggak yang bisa jual. Biarlah dulu yang penting kami bisa bertahan, karena sekarang memang sedang lesu orang berusaha bukan saya tok,” pungkasnya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.