Atasi Stunting yang Masih Tinggi Saat ini, Perlu Libatkan Koperasi Perikanan

Pipnews.co.id, Jakarta – Stunting masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia saat ini. Berdasarkan data Riskesdas 2013, satu dari tiga anak Indonesia menderita stunting. Koperasi perikanan dinilai dapat berperan untuk mengatasi masih tingginya angka stunting di wilayah Indonesia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut memerlukan pelibatan banyak pihak. Mulai pemerintah, swasta, komunitas termasuk di dalamnya koperasi. Sinergi dan kolaborasi antara semua pihak akan mempercepat penurunan angka stunting secara nasional.

Mengingat stunting merupakan suatu kondisi dimana tinggi badan seseorang lebih pendek dari tinggi badan orang lain yang seusianya. Hal tersebut disebabkan tiga hal, yakni pola asuh, pola hidup dan pola makan. Di pola makan inilah yang mengakibatkan malnutrisi atau kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan.

Demikian di jelaskan Direktur Utama PT Aruna Industri Bintan, Yogie Arry, dalam Simposium Pemanfaatan Protein Ikan dalam Rangka Pencegahan Stunting, Senin (14/10).

Ia menambahkan sumber gizi utamanya dapat diperoleh dari ikan sebagai salah satu sumber protein tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara sehat. “Dengan produksi ikan Indonesia yang melimpah, seharusnya persoalan gizi masyarakat dapat teratasi. Karena itu, kami mengajak koperasi perikanan bekerja sama membangun industri pengolahan ikan untuk memproduksi tepung protein ikan (Hidrolisat Protein Ikan/HPI),” ungkapnya.

Masih kata dia, HPI merupakan campuran peptida yang didapat melalui hidrolisis atau pemecahan protein ikan sehingga lebih mudah diasimilasi oleh makhluk hidup. Dimana imbuh Yogie, HPI mengandung omega 3 tinggi, EPA dan DHA, lemak tak jenuh, nilai bilogis mencapai 90 persen dengan jaringan pengikat sedikit sehingga lebih mudah dicerna.

“Bahan baku ikan untuk memproduksi tepung protein ikan cukup dengan jenis ikan rucah yang harganya murah, sekitar 2000/kg. Ikan-ikan tangkapan jenis ini seringkali terbuang karena tidak termanfaatkan,” jelasnya lagi.

Kerennya Yogie mengajukan konsep kemitraan dalam membangun industri tersebut. Untuk memproduksi 2 ton per bulan HPI, membutuhkan investasi sekitar Rp 2 miliar. Dengan kebutuhan bahan baku ikan sebanyak 10 ton. Dalam kemitraan, ia mengatakan, pihaknya akan menjadi penjamin pasar, dan sebagai penyedia teknologi. “Industri pengolahan ikan berbasis koperasi ini akan memberi jaminan harga pada nelayan dan mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan dan menyerap tenaga kerja,” tandas Yogie.

Dengan sistem ini lanjut dia, koperasi perikanan sudah membantu pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan kekurangan gizi masyarakat di daerahnya. Ia berpendapat daerah perlu membangun konsep otonomi protein di wilayahnya yang bekerja sama dnegan koperasi atau Bumdes mempercepat penanggulangan persoalan stunting di daerah.

Yogie menghitung dengan jumlah anak yang terkena stunting mencapai 9 juta orang, maka membutuhkan protein mencapai 6.750 ton bulan. Untuk memproduksinya membutuhkan 36.546 ton ikan per bulan. Ini menjadi potensi untuk menggerakkan industri perikanan.

Adapun Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Br. Simanungkalit secara terpisah mengatakan, mendukung model kemitraan antara koperasi perikanan dengan swasta untuk membangun hilirisasi industri berbasis koperasi. Industrialisasi berbasis koperasi perlu untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat khususnya anggota koperasi. Hal ini sejalan dengan program prioritas nasional sesuai dengan RKP 2019 membangun korporasi model koperasi melalui kemitraan.

Demikian Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman, Agung Kuswandono pun senada, bahwa stunting dan masalah kekurangan gizi menjadi isu nasional yang mendesak dituntaskan. Kata dia, masalah gizi dapat berdampak pada intelektual generasi masa depan bangsa. Karena itu, ia menegaskan stunting harus diselesaikan secara cepat.

Penangangananya perlu holistik dan terintegrasi sehingga dalam lima tahun ke depan stunting tidak lagi menjadi masalah bagi Indonesia. “Solusi mengatasi stunting adalah dengan pemanfaatan protein ikan yang dapat diperoleh dari ikan rucah. Nilai gizi dalam ikan rucah sama dengan ikan yang mahal,” kata Agung. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.