Berkarir di Industri Keuangan Syariah Masih Cukup Prospek

pipnews.co.id, Jakarta – Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar, Indonesia punya potensi sangat besar untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Termasuk di dalamnya keberadaan bank dan asuransi syariah. Tapi pada faktanya, pangsa pasar ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia masih relatif kecil. Tepatnya hanya 5,3 persen terhadap indsutri perbankan nasional.

Jumlah tersebut jauh dibanding dengan pangsa pasar ekonomi dan keuangan syariah di sejumlah negara Islam lainnya. Misalnya Malaysia di kisaran 23,8%, Uni Emirat Arab 19,6%, dan Saudi Arabia bahkan telah mencapai 51,1%.

Demikian diungkapkan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Agus Muharram, dalam diskusi bertema “Human Capital Proffesional Career at Insurance and Sharia Bank Industries”, di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Jum’at (16/5).

Namun Agus Muharram optimis, potensi ekonomi Islam bisa digarap optimal. Menurutnya akan memiliki peluang bagus termasuk berkarir pada industri bank syariah dan asuransi syariah. Sebab, ia menilai potensi ekonomi syariah masih sangat besar. ‘Karir di sejumlah institusi syariah yang mencakup Bank Syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) di Bank umum, Lemaga Keunagan Mikro Syariah (LKMS), Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), pembiayaan syariah, Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB),’ tandasnya.

Agus menambahkan, sebaiknya perguruan tinggi memberikan mata kuliah terkait bank syariah dan asuransi syariah. Juga menawarkan kurikulum yang bisa link and macth dengan dunia kerja khususnya tenaga profesional di bank syariah dan asuransi syariah.

Masih lanjut Agus, meski belum tergarap optimal, namun Indonesia bukannya tanpa prestasi di industri keuangan syariah. Kata dia pestasi itu antara lain, Indonesia menjadi negara dengan jumlah institusi keuangan syariah terbanyak di dunia dengan lebih dari 5,000 unit. Mencakup 34 bank syariah, 58 operator takaful atau asuransi syariah,7 modal ventura syariah, 163 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) 4.500 – 5.500 koperasi syariah atau baitul maal wat tamwil (BMT).

Indonesia sambung Agus juga telah mencetak nasabah ritel terbesar dalam suatu pasar tunggal dengan total lebih dari 23 juta rekening (Mei 2017). Termasuk menerbitkan SUKUK ritel dan menciptakan shariah online Trading System. Secara global, Indonesia menempati posisi 10 dalam Global Islamic Economic Index.

Sesuai laporan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2017/2018. Peringkat pertama diduduki Malaysia dengan skor 193, disusul Bahrain dan Uni Emirat Arab dengan skor 88, Arab Saudi dengan skor 84, Oman dengan skor 59, Kuwait dengan skor 57, Pakistan dengan skor 56, Qatar dengan skor 55, Iran dengan skor 43, dan Indonesia dengan skor 42.

Selain itu kata Agus Indonesia juga menempati peringkat 9 negara dengan asset keuangan syariah terbesar di dunia. Peringkat 1-8, masing-masing diduduki Arab Saudia, Iran,Malaysia, UEA (Uni Emirat Arab), Qatar, Kuwait, Bahrain, Turki, Indonesia, Bangladesh. (Slamet A Wijaya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.