BJ Habibie Tinggalkan Warisan Penting Bernama Habibienomic

Pipnews.co.id, Jakarta – Mantan Presiden B.J Habibie yang meninggal dunia pada Rabu (11/09). Bangsa Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya yang memiliki pemikiran “genuine” dan tajam.

Suroto

Menurut Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), konsep Habibienomic yang pernah ditawarkan almarhum merupakan sebuah aliran ekonomi yang mengedepankan peningkatan nilai tambah ekonomi berbasis teknologi. Pemikiran ini kata dia sebetulnya pernah ditawarkan pada awal tahun 1990-an.

“Habibienomic sebetulnya sebuah aliran pemikiran yang penting dan relevan untuk diterapkan saat ini dan juga mendatang. Sayangnya, beliau belum sempat memiliki kesempatan untuk menerapkanya karena beliau berada dalam situasi krisis dan transisional,” ujarnya.

Ia menambahkan, model konsep alih teknologi harusnya memang ditempelkan dalam berbagai negosiasi kebijakan investasi terutama investasi asing. Sebab tanpa komitmen alih teknologi pada akhirnya seperti saat ini, semua nilai tambah berada dalam kendali negara lain.

Imbuh Suroto, mestinya konsep Habibienomic itu juga jangan hanya dimaknai dalam konteks membangun teknologi “high tech”, tapi lebih penting dari itu semua justru ke industri kerakyatan. Terutama yang menyangkut industri pangan.

Sebab kata dia, hari ini pun dapat lihat, ketika pasar telah terbuka lebar dan penetrasi produk, kita sudah kalah dalam sentuhan teknologi, jadi tak memiliki “reserve” sebagai hasil dari nilai tambah. “Pemerintahan hari ini dan mendatang musti memikirkan kembali konsep kebijakan Habibienomic ini,” tandasnya.

Setiap produk yang dihasilkan rakyat kata dia, harus bernilai tambah dan memberikan tambahan kesejahteraan bagi mereka. Terutama teknologi untuk industri pangan dan energi terbarukan.

Mrnutut dia eksportasi kita yang masih tergantung kepada produk ekstraktif atau bahan mentah yang tak bernilai ekonomis. Kata dia mustinya dikurangi dan setiap produk, terutama industri pangan basis keluarga (home industry) harus digenjot dengan diberikan insentif fiskal. Eksportasi kita harusnya merupakan berasal dari surplus pangan atau ekonomi domestik.

Kalau kebijakan ini dijalankan maka lanjut dia, maka dampak strategisnya akan banyak sekali. Seperti mengurangi pengangguran, memberikan nilai tambah riel kepada rakyat banyak, dan setidaknya menurut dia mengurangi defisit neraca perdagangan yang saat ini telah mencapai angka terburuk sejak tiga dekade belakangan. “Jadi dalam menyikapi revolusi industri 4.0 itu jangan terjebak pada soal bisnis cangkangnya atau kembangkan bisnis basis platformnya, tapi isinya,” tegasnya.

Konsep Habibinomic yang demikian itud juga akan bermakna untuk kembalikan kedaulatan ekonomi kita. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.