Inkopti Akhirnya Gelar RALB, Setelah 10 Tahun Tak Pernah Adakan RAT

Pipnews.co.id, Salatiga – Induk Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Inkopti) akhirnya dapat menyelenggarakan Rapat Anggota Luar Biasa (RALB), atas dorongan kuat dari para anggota. Primer Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) sebagai anggota Inkopti, memang wajib mengingatkan pengurus untuk menyelenggarakan rapat anggota. Sebab, RAT merupakan parameter pelaksanaan demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan organisasi koperasi.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Kelembagaan, Kementerian Koperasi dan UKM Luhur Prajarto dalam acara pembukaan Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) Inkopti yang dilaksanakan di Kota Salatiga, Kamis (31/7).

Ia menambahkan, Inkopti memang sudah 10 tahun tidak pernah menyelenggarakan RAT karena kondisi internal. Tapi kata Luhur, hal itu bukan suatu alasan untuk tidak melaksanakan RAT. “Justru melalui RAT inilah segala sesuatu bisa dibahas bersama anggota untuk mencari solusi dan menghindari kevacuman,” ujarnya lagi.

Masih kata Luhur, perubahan lingkungan yang sangat dinamis, mengharuskan pelaku usaha termasuk koperasi harus pandai mengatur strategi bisnisnya dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat. “Kemajuan teknologi informasi harus disikapi dengan bijak dan harus segera bertransformasi untuk mengadopsi teknologi. Inkopti sebagai sekunder dapat mengimplementasikan teknologi informasi untuk memenuhi kebutuhan anggota, sekaligus sebagai sarana memantau jumlah pengrajin tempe tahu, kebutuhan anggota akan bahan baku, peralatan prosesing termasuk informasi pasar,” papar Luhur.

Luhur meyakini dengan digelarnya RALB tersebut tanda bangkitnya Inkopti. Untuk itu rapat harus bisa membuahkan keputusan-keputusan strategis untuk pembenahan manajemen, sekaligus mengatasi permasalahan yang selama ini dihadapinya. “Kedepannya pengurus tidak boleh lengah dan perlu terus melakukan kaderisasi, agar tidak ketinggalan dengan badan usaha lainya. Sebab, sudah saatnya kepengurusan koperasi dipegang oleh generasi milenial yang umumnya melek teknologi,” tandasnya lagi.

Bagi Luhur, Inkopti yang merupakan koperasi di sektor riil, mempunyai potensi besar untuk menangkap peluang pasar karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi tempe tahu. Untuk itu kata Luhur, pengurus harus bisa menyusun rencana kerja yang konkrit sesuai dengan keperluan anggota dan perkembangan bisnisnya.

Selain itu Luhur juga menekankan, bahwa perubahan mindset ini tidak hanya untuk Inkopti, tetapi juga termasuk Primkopti selaku anggotanya. “Kalau Primkoptinya maju dan berkembang, tentunya Inkopti juga berkembang. Tapi jika masih tidak berkembang juga, maka kepengurusannya perlu dikoreksi dan dibenahi lagi. Apalagi reformasi total koperasi masih berlanjut, dalam rangka mewujudkan koperasi yang berkualitas,” tandas Luhur lagi.

Sementara itu Ketua Pusat Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Provinsi Jawa Tengah Sutrisno, salah satu pengganggas RALB dan juga sebagai Ketua panitia, menyampaikan bahwa selama ini anggota Inkopti seperti anak kehilangan induk, karena Inkopti tidur panjang. Oleh karena itu Sutrisno mengajak kepada seluruh anggota yang hadir untuk bersama-sama dan bergotong royong membangun Inkopti.

Adapun Ketua Harian Dekopin Agung Sudjatmoko menegaskan, bahwa bisnis yang eksis adalah bisnis yang mampu mengadaptasi setiap perubahan yang ada, bukan melawan perubahan. Karenanya, pengurus harus lincah membuat keputusan dan menangkap peluang. “Agar organisasi lincah, maka struktur harus ramping, tetapi kaya fungsi dan menggunakan teknologi informasi. Sebab, kalau tidak menggunakan teknologi informasi maka akan tertinggal,” tsbdas Agung. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.