Mantan Tukang Sampah dan Kenek Truk itu Kini Pejabat Karir PNS Kemenkop UKM

Agus Sudharmono saat di kantor PBB di NewYork USA, beberapa waktu lalu

Ibarat roda yang berputar, kadang dibawah kadang diatas, begitu juga dengan kehidupan seseorang. Demikian juga dengan Agus Sudharmono (40), yang kini menjabat Kabag Humas Kemenkop dan UKM, tak bakalan menyangka ia akan meniti jabatan karir sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Pria keturunan Madura, yang awalnya hanya mampu bersekolah sampai SMP itu, dengan perjalanan berliku, kini sudah menamatkan jenjang S2 nya di salah satu Perguruan Tinggi (PT) swasta ternama di Jakarta.

Sudah menjadi tradisi bagi orang Madura baik pria maupun wanita yang beranjak dewasa, untuk merantau ke luar Madura terutama ke Surabaya yang paling dekat (tinggal menyebrang jembatan Suramadu), mencari pengalaman atau kalau bisa mendapatkan pekerjaan, baik ikut orang atau wirausaha.

Karena itu sepanjang Surabaya Utara khususnya yang berbatasan dengan pulau Madura, seperti serasa di pulau Madura, saking banyaknya komunitas Madura disini. Apapun pekerjaan tidak masalah, yang penting menghasilkan uang dan halal. Karena itulah banyak kita jumpai di berbagai kota, warga Madura dengan ragam profesi, mulai jualan makanan, jualan kayu dsb.

Masa kecil, Mono (panggilan akrab-nya) yang lahir 14 april 1977 di Surabaya, pun tak lepas dari lingkungan ini. Menginjak umur 5 tahunan, ia dibawa orang tuanya tinggal di kab Bangkalan Madura, dan disekolahkan di sana. Bagi Mono, masa-masa sekolah di Madura (SD dan SMP) adalah masa yang sangat menyenangkan, karena usai sekolah, bisa bermain bebas seperti layaknya anak-anak sebayanya.

Tukang Sampah dan Kenek Truk

Usai taat SMP, perjalanan hidup yang berliku mulai dijalani si remaja Mono. Karena persoalan klasik, seperti sebagian yang dialami warga Madura), akhirnya Mono pun tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA.

Akhirnya diputuskan, Mono sebaiknya mulai merantau, mencari pengalaman dengan kembali ke tanah kelahirannya di Surabaya. Di kota pahlawan ini ia tinggal di rumah neneknya.
Karena cuma lulusan SMP, dan kurang punya bakat berjualan, Mono pun tak segan-segan memilih profesi menjadi tukang sampah di sekitar lingkungan rumahnya, dan di pasar tradisional kec Pengggilingan Surabaya, dekat rumahnya juga. Kadang ia juga membantu bapaknya menambang emas di Surabaya.

Bosan jadi tukang sampah dan ingin mencari pengalaman baru, Mono pun mencoba profesi sebagai kenet/kernet truk gandeng rute Jakarta-Surabaya. Disinilah ia mulai mencium aroma ibukota Jakarta, kota yang nantinya jadi tempat tingalnya dan menjadi pajabat karir di Kementrian.

“Waktu kerja kenek truk gandeng hal yang selalu saya inginkan kalau malam di Jakarta di kawasan Sunter tepatnya adalah, kalau tukang nasi goreng lewat seperti apa rasanya ya, karena saya ndak mampu beli nasi goreng,” kenangnya.

Menjadi kenek truk, dimana waktu istirahat lebih banyak di jalan ketimbang di rumah, membuat Mono menjadi kecapekan. Beberapa bulan menjalani profesi kenek, langsung kesehatannya pun drop. Dan pada sutu saat ia, pun sakit dan tak sanggup berobat ke dokter. Bapaknya yang mencari-cari Mono dengan informasi dari para supir truk, akhirnya menemukan Mono terbaring di rongsokan mobil di sepitar pantura. Dibawalah sang anak kembali ke Surabaya untuk mendapatkan pengobatan yang layak, begitu sembuh akhirnya ia dibawa ibunya ke Jakarta, di akhir 1993.

Mulailah Mono bergelut dengan ibukota, tinggal di daerah Cilandak Jaksel, numpang pada saudara dari nenek. Dan sebagai pekerja apa saja, ditambah adanya aktif di pergaulan di komunitas warga Madura di Jakarta, ia pun tak mengalami kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan serabutan, mulai dari tukang amplas, tukang bangunan dan lain-lain.

Cleaning Service Kemenkop

Sampai suatu saat ada temen dari saudara menawarkan kerja dikantoran, tenyata yang dimaksudkan adalah di Kementrian Koperasi dan UKM saat ini (dulu masih Departemen Kop dan UKM). Dengan modal ijazah SMP-nya , ia mencoba melamar kerja sebagai cleaning service di Departemen Koperasi.

Betapa senangnya dia diterima bekerja. “Saya sangat bersyukur kala itu, meski hanya bekerja sebagai cleaning service. Saat itu tepat sweet seventeen kelahiran saya,” ujarnya mengenang. Ya, tepat 17 tahun Mono mulai menjalani profesi barunya sebagai cleaning service di Kemenkop dan UKM.

Namun, nasibnya tak berubah banyak, karena gaji yang ia terima dari profesi barunya itu juga tak mencukupi untuk kehidupan sehari hari. “Kehidupan saya waktu itu ya masih lontang-lantung, dan harus banyak siasat agar bisa hidup dengan gaji pas-pasan bahkan kurang,” kenangnya.

Karena itu selepas kerja, ia pun ikut ngamen sama temannya, atau kembali jadi kenek di Kopaja, dan tak jarang tidur di terminal. Lalu subuh2 kembali ke kantor lagi. Setidaknya biar ikut merasakan seperti pekerja kantoran pada umumnya, pergi kantor pagi pulang sore. Dua tahun ia jalani kehidupan seperti ini, sampai akhirnya sekitar tahun 1999 ada teman yang menawarkan tinggal bersama di mess departemen koperasi di jln Gatot Subroto Jaksel.

Mono mengenang, untuk memenuhi kebutuhan makan minum sehari-hari, ipapun tak segan membantu teman, berjualan mie instan bubur kacang hijau dan bubur ketahn hitam. “Dan saya bisa makan siang gratis dari remukan indomi (merek mie instan popular-red) yang tercecer di bungkus itu saya kunpulkan,” katanya.

Sementara sarapan paginya, Mono pun memiliki siasat dengan membantu temen-temen sekampungnya di Madura, yang banyak berjualan soto sayam di halte-halte.di kawasan Kuningan Jaksel. “Nah tiap hari saya gilir mereka, keliling dari halta ke halte, membantu tukang soto ayam, sekedar bisa dapat sarapan,” kenang Mono.

Motivasi Tinggi

Semua siasat menjalani kehidupan di Jakarta dengan gaji pas-pasan itu, tak lepas dari motivasinya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, demi masa depan yang lebih baik. Apalagi ia melayani pegawai Departemen yang umumnya memiliki pendidikan tinggi, sehingga menambah motivasinya untuk bisa seperti mereka.

Nah sejak itu, ia membuka lembaran baru. Pergaulan di tempatnya bekerja mendorong semangatnya untuk mendapat hidup lebih baik. Sedikit demi sedikit uang hasil keringatnya dikumpulkan untuk melanjutkan sekolah. Setiap hari selesai bekerja, dirinya melanjutkan kegiatannya ke sekolah hingga lulus. Setelah mengantongi ijazah SMA, Mono ikut seleksi penerimaan PNS di lingkungan Departemen Koperasi, dan akhirnya ia pun diterima.

Apakah hidup Mono langsung berubah setelah jadi PNS ? ya ndak juga meski jadi PNS di bagian humas dan pubikasi, Mono sebagai anak bawang pun menjalani profesi dari bawah juga. Kadang membuatkan kopi buat atasan, membawa tasnya, kadang mebikinkan kopi wartawan yang biasa meliput di Departemen Koperasi kala itu (mulai masa menkop Subiakto Tjakrawerdaya-red).

Sambil bergaul, ia pun menimba ilmu dari para seniornya baik dari pegawai Departemen maupun wartawan yang ngepos di Kemenkop, sambil diam-diam ia meneruskan kuliahnya di salah satu Perguruan Tinggi (PT) di Jakarta, dan dilanjutkan dengan S2 yang ia selesaikan pada 2016 lalu. Dan jadilah, Agus Sudharmono seperti sekarang ini, pejabat karir di Kementrian dan sukses meraih gelar S2 bidang komunikasi.

“Saya enggak nyangka dan nggak pernah mimpi menjadi seperti sekarang ini, itu adalah takdir Allah SWT, saya Cuma berusaha dan berdoa. Sekarang saya mikir, apa yang bisa saya lakukan untuk Kementrian, karena kantor ini menjadi rumah utama buat saya, makanya saya mendedikasikan diri untuk kemajuan Kementrian (Kemenkop dan UKM-red) ,” katanya.

Mono pun tak lupa mengucapkan terimakasih buat senior-seniornya, baik di kantor maupun wartawan yang pernah ngepos di Kemenkop dan UKM, yang telah membimbing dan memotivasinya, dalam segala hal.

Sementara untuk generasi muda, “Jangan pernah takut meraih impian walau kalian ada diposisi yang kekurangan dan ada jauh dari perkotaan karena keberhasilan itu ada pada diri kita sendiri dan kemauan kita. Dimana ada kemauan disitu Allah akan memberkan jalan,” pesan Mono. (***)
Sumber : Global News.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*