Masyarakat Diimbau Hati-hati Jelang Lebaran Banyak Rentenir Berkedok Koperasi.


 
pipnews.co.id, Jakarta – Kebutuhan keuangan masyarakat untuk memenuhi beragam keperluan menjelang lebaran meningkat tajam.  Hal ini kerap membuat masyarakat mencari pinjaman ke berbagai lembaga keuangan termasuk koperasi. Tetapi untuk hal ini,  Kementerian Koperasi dan UKM mengimbau masyarakat agar teliti. Terutama terhadap koperasi yang menawarkan pinjaman dengan berbagai iming-iming kemudahan. Ternyata dia adalah rentenir berbaju koperasi yang menjebak dengan bunga tinggi.

Demikian diungkapkan Deputi Bidang Pengawasan, Kementerian Koperasi dan UKM, Suparno, pada media di Jakarta, Jumat, (24/5).

Ia wanti-wanti masyarakat harus hati – hati dalam memanfaatkan jasa layanan keuangan, jangan asal butuh karena menjelang lebaran, lalu mengabaikan prinsip kehati-hatian. “Masyarakat harus melihat aspek legalitas dari lembaga keuangan tersebut, selain juga harus memperhatikan aspek logis dari produk pinjaman yang ditawarkan,” ujarnya.

Masih kata Suparno, sekarang tetap perlu waspada karena masihmarak koperasi yang menjalankan usahanya layaknya rentenir, dengan memberikan bunga yang tinggi. “Meski mengatasnamakan sebagai koperasi, kegiatan para pengelola ternyata jauh dari penerapan aturan yang sebenarnya,” tegasnya lagi.

Praktik seperti itu imbuh dia, masif menjelang lebaran. Mereka kata Suparno menggunakan momentum lebaran, dimana kebutuhan masyarakat cukup tinggi, terutama di pelosok-pelosok daerah. Dimana masyarakat tidak banyak mendapat informasi yang tepat terhadap akses keuangan.

Menurut Suparno, ciri rentenir berkedok koperasi adalah  memberlakukan potongan administrasi yang merugikan dan suku bunga rendah yang palsu. Biasanya koperasi tersebut menawarkan kemudahan persyaratan, misal, hanya butuh KTP saja dan melayani masyarakat umum yang bukan anggota koperasi tersebut. 

Sebelum hal yang merugikan belum terjadi, Suparno meminta masyarakat  teliti, membaca dan memahami mekanisme pinjaman yang  ditawarkan.  “Jangan sampai belum mendapat manfaatnya sudah ditagih kembali. Pada akhirnya yang paling sering terjadi adalah kesulitan membayar pada rentenir yang pertama, masuk jebakan rentenir yang lain,” tegasnya lagi.

Kalau sampai terjadi kata dia, bukannya mengatasi kesulitaan keuangan, justru masyarakat  terjebak pada lingkaran rentenir. Sehingga ditegaskan Suparno, bahwa koperasi yang benar adalah yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas kekeluargaan. Ia juga meminta masyarakat tidak mudah tergiur dengan penawaran bunga pinjaman, harus memperhatikan berapa bunga yang diterapkan oleh koperasi sehingga tidak kesulitan saat pengembalian.  

Suparno pun menyarankan, masyarakat meminjam pada koperasi dimana mereka menjadi anggotanya.  Dengan begitu sebagai anggota sekaligus sekaligus pemilik, masyarakat berhak mengetahui penentuan bunga pinjaman yang diputuskan dalam RAT, sesuai dengan bisnis yang dijalankan koperasi itu untuk mencapai bunga yang rasional. Menguntungkan kedua belah pihak dan tidak saling membebani dalam meraih manfaat untuk kesejahteraan bersama sebagaimana tujuan koperasi itu didirikan. (Slamet A Wijaya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.