Uncategorized

Potensi UMKM Bertumbuh dan Menaikan PDB Nasional Masih Sangat Besar

Pipnews.co.id, Jakarta – Mengingat situasi ekonomi global saat ini yang penuh gejolak, serta pengaruh perang dagang antara Cina dan AS membuat banyak negara kedodoran. Beruntung Indonesia memiliki UMKM yang tangguh, sehingga pemerintah tetap optimis pertumbuhan ekonomi di level 5 persen.

Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada tren positif itu, UMKM selama ini memang dianggap paling tahan terhadap resistensi ekonomi. Wajar jika keberadaannya perlu untuk terus dikuatkan. Ketangguhan mereka terlihat jelas saat krisis berlangsung. Itu karena sebelum krisis eksistensinya sudah teruji. Hanya saja mereka tak tersentuh perhatian sebelumnya.

Menyadari hal ini, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM), selaku lembaga yang menaunginya, berkomitmen untuk terus mendorong usaha mikro kecil menengah (UMKM) supaya naik kelas. Perihal kontribusi hingga kini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun tak sedikit.

Data di Kemenkop dan UKM menyatakan, kontribusi UMKM dalam struktur PDB cukup signifikan yaitu 60,34%. Sektor ini juga memberikan ruang bagi penyerapan tenaga kerja nasional hingga 97% dan 14,17% dari total ekspor. Sementara jumlah UMKM sendiri saat ini mencapai 64,2 juta UMKM dengan total investasi mencapai 58,18%.

Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik, mengatakan potensi sektor UMKM untuk menaikkan PDB dan pertumbuhan ekonomi sangat besar. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa melesat sehingga tidak stagnan di kisaran 5 persenan, yaitu dengan mendorong UMKM naik kelas.

Menurutnya, apabila ada UMKM yang naik kelas sekitar 2,5% dari jumlah total maka kenaikan PDB berpotensi mencapai tumbuh Rp486 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 5,88%. Sementara jika ada 10 persen UMKM yang naik kelas peluang PDB akan tumbuh sebesar Rp936 triliun atau setara PDB 6,59%. Kemudian, masih Abdul Kadir Damanik, jika ada UMKM yang tumbuh besar sebesar 10 persen maka potensi pendapatan negara akan tumbuh sekitar Rp1.872 triliun atau setara pertumbuhan PDB sebesar 8 persen.

“UMKM naik kelas itu penting, sebab persentase UMKM yang naik kelas itu akan menentukan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Masalahanya, UMKM kita ini masih banyak yang belum percaya diri,” kata Abdul Kadir Damanik dalam forum diskusi bertema “Menjaring Kemitraan, Perkuat UMKM Naik Kelas” di Pressroom Kemenkop dan UKM Jakarta, Selasa (26/11).

Dijelaskannya bahwa beberapa persoalan yang kerap dihadapi oleh UMKM diantaranya adalah SDM dan Manajemen yang terbatas dan kurang memanfaatkan teknologi dalam hal produksi hingga pemasaran. Inovasi dari rata-rata UMKM selama ini juga masih minim sehingga bisnis UMKM kerap jalan di tempat. Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kadang menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktifitasnya. Persoalan terakhir yaitu keterbatasan akses pemasaran dan juga penyediaan bahan baku.

Untuk mengatasi berbagai persaolan tersebut, Abdul Kadir Damanik menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan enam strategi jitu. Pertama, Kemenkop dan UKM komitmen untuk memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sektor produksi atau jasa. Kedua adalah dengan memberikan dukungan pembiayaan ketika UMKM tidak dapat mengakses pembiayaan melalui perbankan. Ketiga, Kemenkop dan UKM juga menjamin akan terus memberikan kemudahan serta kesempatan berusaha.

Strategi keempat yaitu meningkatkan daya siang produk UMKM dengan mendorong UMKM memiliki standar kualitas mutu tertentu. Kelima, pengembangan kapasitas manajemen SDM pelaku UMKM dengan terus melakukan pendampingan baik secara online ataupun offline. Keenam, Kemenkop dan UKM akan terus bersinergi dengan Kementerian dan Lembaga terkait dan stakeholder lainnya agar lima strategi tersebut dapat berjalan sesuai harapan.

“Dari itu (strategi) kita harapkan bisa ada perubahan dimana UMKM bisa menjadi bagian dari global value chain. Kemudian juga bisa tetap melahirkan enterpreneur baru. Itu yang akan kita tuju dalam 5 tahun kedepan,” pungkas Damanik.

Adapun Ketua Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel), Suryo Hadiyanto, mengungkapkan untuk bisa menscale up koperasi dan UMKM, diperlukan terobosan-terobosan oleh pengurus koperasi atau pelaku UMKM itu sendiri. Koperasi dan UMKM kata dia, wajib memanfaatkan perkembangan teknologi untuk dapat memasarkan produk-produknya. Dengan begitu pangsa pasar dari koperasi dan UMKM juga akan semakin luas.

Kisel yang kini dipimpinnya setidaknya telah melakukan tiga terobosan, yaitu dengan membuat sebuah aplikasi, memperluas channel dan platform baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa produk-produk dan layanan dari Kisel tersertifikasi atau memenuhi standar yang ditentukan. Dengan begitu daya saing dan tingkat kepercayaan customer terhadap produk dan layanan dari Kisel terjamin.

“Setelah kita bangun people, sistem dan teknologi. Kita juga sertifikasi SDM kita. Sebab bagaimanapun sebagai institusi kalau kita sendiri tidak bisa berikan standar mutu tingkat internasional, nggak mungkin customer kita percaya. Tetapi dengan dimilikinya sertifikasi itu, bahkan semua unicorn mau kerja sama dengan kita, karena mereka firm dan yakin Kisel udah ikuti standar dunia,” kata Suryo.

Masih jelas Suryo, Kisel saat ini beranggotakan 6.797 orang dan mereka adalah karyawan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kini Kisel imbuh dia, memiliki tiga unit bisnis utama, yaitu Sales and Channel (S&C), General Services (GS), dan Telco Infrastructure & Power Engeenering. Dari tiga unit bisnis ini Kisel berhasil mendirikan lima perusahaan, yakni PT Kinarya Alih Daya Mandiri (KAM), PT Kinarya Alih Selaras (KST), PT Kinarya Selaras Piranti (KSP), PT Kinarya Selaras Solusi (KSS) dan PT Kinarya Mandiri Konstruksi.

Untuk itulah Kisel tegas Suryo, menargetkan pada 2020 membidik target omset hingga Rp7 triliun. “Dengan digitalisasi usaha dan inovasi yang terus dilakukan oleh Kisel saat ini bisa mencapai omset sebesar Rp6 triliun,” tandasnya.

Dengan prospek dan optimisme tersebut, Suryo yakin pada 2020 nanti asetnya bisa sentuh angka Rp7 triliun. Bahkan dari jumlah itu akan terus dioptimalkan lagi untuk bisa mencapai Rp8 triliun. “Ya itulah tekad dan semangat kami untuk terus membesarkan Kisel,” pungkas Suryo. (Slamet AW).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button