Skala Ekonomi Petani Kopi Bisa Meningkat Melalui Sarana Koperasi

Pipnews.co.id, Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM menginginkan skala ekonomi petani kopi ditingkatkan agar dapat berdaya bersaing. Dimana skala ekonomi tersebut bisa meningkat, jika petani kopi bergabung dalam wadah usaha, khususnya koperasi. Sebab, jika petani kopi hanya sendiri-sendiri dalam menawarkan produksi yang terbatas itu akan sulit bersaing untuk mendapatkan harga tinggi. Karenanya, lebih baik petani yang produksinya kecil berkumpul dan menjual produknya secara bersama-sama lewat koperasi. Sehingga skala ekonominya pun menjadi lebih besar.

Demikian dibantarar pemaparan Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria br Simanungkalit dalam Diskusi “Peluang Komoditas Kopi” dalam rangka peringatan hari UMKM Nasional, Senin (12/8).

Ia menambahkan, Kemenkop dan UKM saat ini telah melakukan edukasi kepada petani agar memandang komoditas kopi sebagai sebuah industri. Dengan begitu petani menyadari mereka ada dalam sebuah ekosistem yang berperan sebagai bagian utama dari proses bisnis kopi. Masih kata dia, adanya kelembagaan usaha, yakni koperasi merupakan solusi bagi petani kopi. Sehingga kelembagaan usaha tersebut harus diperkuat. “Koperasi sudah terbukti sebagai usaha bersama demi kepentingan bersama bukan untuk kepentingan pemodal. Petani kopi dapat meningkatkan skala ekonominya dengan bergabung dalam koperasi,” tegas Victoria.

Melalui koperasi lanjut dia, petani lebih mudah dapat memahami struktur pasar kopi, melakukan investasi dan meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan. Dan pemerintah akan membantu dalam peningkatan daya saing, antara lain dengan standarisasi, akses pembiayaan, aspek perdagangan dan aspek lainnya.

Menurut pendiri Koperasi Kopi Mitra Malabar Dhanny Rhismayaddi, meski industri kopi cukup menggeliat saat ini, petani kopi pada umumnya masih terbelenggu dalam kemiskinan. Petani kopi kerap menjadi mainan tengkulak yang menentukan harga sesuka hatinya.
Ia juga menegaskan petani kopi hanya bisa bersaing jika berkelompok atau berkoperasi. Namun, sayangnya petani kopi yang tergabung dalam koperasi masih sedikit. “Dalam bentuk koperasi petani sangat diuntungkan. Tanpa koperasi, petani pasti dikerjain tengkulak,” kata Dhanny.

Masih Imbuh dia, dengan bergabung dalam koperasi, petani memiliki nilai jual lebih baik. Tengkulak akan sulit melawan karena petani terikat untuk menjual panennya ke koperasi. Akibatnya harga kopi di tingkat petani membaik. Dhanny menyebutkan, harga green bean Rp 70.000 – 150.000/kg sedangkan harga cherry Rp 5.500 – 7.500/kg. Menurutnya, para tengkulak biasanya mengambil kopi gabah dengan harga seperempat dari harga kopi green bean.

Dhanny juga mengakui, program pemerintah melalui perhutanan sosial, yang memberikan pengelolaan lahan selama 35 tahun kepada petani berbadan hukum koperasi, sangat membantu petani. Terlebih lagi, yang umumnya petani kopi berada dekat dengan kawasan hutan. Maka dengan dukungan pemerintah akan dapat mengembangkan komoditas pertaniannya lebih baik.

Adapun Koperasi Kopi Mitra Malabar kini beranggotakan 2.300 orang lebih petani kopi, dengan luas lahan 2.250 ha. Mereka tersebar di Garut, Bandung, Bogor, Sumedang. Selain itu, ada juga di Jateng, Batang, Lampung. Kapasitas produksi kopi 1.500 ton/tahun dengan 80% jenis kopi arabika.

Dhanny menambahkan, pihaknya telah menghentikan ekspor kopi karena penyerapan dalam negeri sangat besar, di sisi lain margin ekspor sangat tipis. Sebagai perluasan bisnis, Koperasi Mitra Malabar mengembangkan juga kedai-kedai kopi yang tersebar di berbagai daerah. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.